CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 26 Maret 2012

Lost My Love


"Si Andre suka sama kamu tuh, Nan!!" Sontak seisi kelas langsung menatap ke arahku dan Andre setelah mendengar teriakan Dimas itu.
"Rick, lo pindah dong!! Nggak enak tau dilihatnya!!" celoteh Rayhan.
"Eh iya deh, kasihan Andre juga kalo gue duduk sama Kinan. Okay gue pindah…" Erick ikut-ikutan menggodaku.
Dimas, Rayhan, Erick, dan Andre memang sobat akrabku, jadi aku selalu menganggap mereka bercanda. Tapi sepertinya kali ini mereka serius karena hampir setiap hari mereka berkata seperti itu padaku. Apalagi ketika mereka tau aku putus dari Aditya, semakin sering saja mereka menggodaku. Mengganggu? Tentu iya! Saat aku ngobrol sama Andre, pasti deh suara bisik-bisik penghuni kelas mulai terdengar padahal kan kita cuma ngobrolin pelajaran.
"Benar nggak sih lo suka sama Kinan, Ndre?" Tanya Devi.
"Iya nih! Kalau lo beneran suka sama Kinan kenapa nggak lo tembak aja sih dia?! Bosen tau dengerin mereka bertiga!" ucap Dyah.
"Mumpung Kinan lagi single tuh! Ntar kalau udah jadi milik orang gigit jari lo! Atau jangan-jangan kalian udah jadian ya??" Devi menyelidik.
"Hah??!!%" mataku langsung membelalak.
"Cie… kagetnya barengan nih…" goda Dimas yang melihatku dan Andre terkejut hamper bersamaan.
Sontak aku langsung menoleh ke arah Andre. Lama aku menatap Andre dan Andre juga menatapku dengan tatapan yang aneh.
"Hei!! Kok nggak dijawab sih? Malah tatap-tatapan!" pertanyaan Dyah itu membuatku tersentak.
"Enggak kok… kita cuma…" ucap Andre terpotong.
"Kita cuma temenan nggak lebih," jawabku datar.
"Oh…" ucap seisi kelas, lalu mereka kembali ke kesibukan masing-masing.
Semenjak kejadian itu aku bermaksud menjauhi Andre. Tapi kenapa yang aku rasain aku semakin dekat dengan Andre ya? Mungkin karena dia sobatku dan kita udah deket dari dulu. Atau mungkin karena ketiga temenku yang berusaha buat nyomblangin aku sama Andre?
Mungkin memang bener kalau kedekatanku dengan Andre ini karena ulah ketiga sobatku itu. Karena yang aku rasain sekarang aku nggak bisa jauh dari Andre. Dan lama-kelamaan hubungan kita lebih dari sekedar teman.
Andre cowok yang baik dan penyayang. Dia selalu bisa tenangin aku kalau aku emosi. Dia selalu bisa hibur aku saat aku sedang sedih. Dan yang paling penting, dia bisa ngimbangin sifat childish-nya aku. Ya, itulah yang aku rasakan selama enam bulan menjadi kekasih Andre.
Tapi kenapa belakangan ini sifat Andre berubah? Dia jadi cuek, dingin, dan seperti ingin menjauhiku. Apa ada yang lain di hatinya? Apa dia punya kekasih lain? ENGGAAAKKK!!! Aku nggak boleh negative thinking! Mungkin dia lagi sibuk sama ekskul basket dan photographer-nya. Apalagi dia akan mewakili sekolah untuk Teen Photographers di Bandung. Ya, itu yang dia katakana padaku tadi pagi.
Bel pulang berdering. Ada yang terlihat senang, ada juga yang terlihat kecewa karena materi Fisika kali ini belum begitu dimengerti.
"Kinan, lo pulang sendiri aja ya. Sorry gue nggak bisa ngater. Masih ada urusan," ucap Andre padaku.
Hah?! Kasar banget sih?! Kinan?? Sejak kapan dia panggil aku dengan sebutan nama?? Biasanya juga sayang, cantik, atau nggak honey. Dialegnya juga?! Sejak kapan dia pake dialeg gue-lo sama aku?? Ah sudah lah!! Aku harus tetap positive thinking. Mungkin mood-nya lagi jelek.
"Oh," aku tertegun. "Gapapa kok, hari ini aku juga dijemput sama Kak Adrian." lanjutku nggak kalah cuek. Kemudian aku bangkit dari bangku dan menghampiri Devi.
"Dev, pulang yuk!" ajakku.
"Dy, buruan deh!" ucap Devi pada Dyah.
"Kalian duluan aja, aku masih ada ekskul," jawab Dyah.
"Oh ya udah. Kita duluan ya…" ucapku.
Aku dan Devi melangkahkan kaki keluar kelas. Sepanjang perjalanan ke pintu gerbang kami mengobrolkan apa yang bisa dibahas.
"Eh Nan, tadi gue nggak sengaja denger obrolan lo sama Andre. Gue denger Andre ngomongnya pake gue lo gitu. Kasar banget loh kesannya. Emang kalian lagi rebut? Atau lagi ada masalah gitu?" Tanya Devi.
"Nggak kok. Mood­-nya lagi jelek aja kali," jawabku datar.
"Terus, kok lo nggak dianterin pulang sih?" tanya Devi.
"Dia ka nada ekskul photographer hari ini," jawabku enteng.
"Tapi biasanya kan lo selalu dianter pulang? Ya walaupun ada ekskul, dia pasti nyempetin diri buat ngenter lo pulang dulu." Devi sedikit menyelidik.
"Katanya sih ada sedikit problem. Eh bay the way, hari ini ekskulnya cuma  photographer kan?" jelasku sembari bertanya.
"Iya.." jawabnya. "Lho?? Bukannya tadi si Dyah bilang masih ada ekskul?? Emang dia ikut ekskul photographer ya?" Devi terlihat penasaran.
"Tau deh," jawabku cuek.
"Eh Nan, tadi lo nyatet materi Fisika kan? Gue pinjem dong.." ucapnya.
"Kebiasaan deh! Pasti nggak nyatet lagi kan?!" tanyaku menyelidik.
"Hehehehe…" Devi terkekeh.
"Lho?? Buku Fiskaku mana ya?" aku mengobrak-abrik isi tasku. "Aduh! Kayaknya ketinggalan di atas meja deh," lanjutku.
"Kok bisa sih, Nan?" tanya Devi.
"Tau deh," aku mengeryitkan kening. "Aku cek ke kelas dulu deh," lanjutku sembari melangkahkan kaki kembali ke kelas.
"Gue tunggu di depan deh!" ucap Devi.
"Okay," jawabku setengah berteriak.
Ketika aku sampai di depan kelas, aku memperlambat langkahku karena aku mendengar obrolan dari dalam kelas.
"Tapi Kinan itu sahabatku…" ucap suara cewek dari dalam kelas.
Kinan? Kenapa bawa-bawa namaku? Siapa sih yang ada di dalam kelas? Aku mulai penasaran dan mencoba melihat ke dalam.
"Tapi aku sayang sama kamu, Dyah.!!"
What??!!% Andre?! Dyah?! Ada hubungan apa mereka? Apa mungkin memang benar dugaanku selama ini? Apa Andre sudah menduakanku?
"Ku juga sayang sama kamu. Tapi hubungan ini harus kita akhiri karna kamu sudah terikat dengan Kinan, aku nggak mau nyakitin Kinan," ucap Dyah.
"Kinan? Aku sama sekali nggak punya perasaan untuk dia! Aku sayangnya cuma sama kamu, Dyah.." tanpa aku sadari mutiara jernih ini mulai berjatuhan dari sudut-sudut mataku.
"KINAN!!" teriakan mereka berdua masih dapat ku dengar.
Aku memeluk Devi  saat aku sampai di gerbang sekolah. Devi tampak heran dengan diriku, "Kinan? Lo kenapa? Kenapa lo nangis?" aku tak menjawab dan masih sesenggukan.
TIN! TIN! Suara klakson mobil Kak Adrian membuatku tersentak. "Kinan…" panggil Kak Adrian.
"Iya, Kak…" jawabku. "Aku pulang dulu deh," ucapku pada Devi.
Aku terus-terusan memikirkan kalimat yang terucap dari bibir Andre tadi siang. 'Tapi aku sayang sama kamu, Dyah.!!' 'Kinan? Aku sama sekali nggak punya perasaan untuk dia! Aku sayangnya cuma sama kamu, Dyah..'
'Tapi aku sayang sama kamu, Dyah.!!' 'Kinan? Aku sama sekali nggak punya perasaan untuk dia! Aku sayangnya cuma sama kamu, Dyah..' kalimat it uterus teringang di telingaku. Otakku berputar keras, hatiku terus bertanya-tanya.
Angin malam mulai menusuk tulang, tak kusadari sejak tadi sore yang kulakukan hanya berdiri dan melamun di balkon kamar.
Susah tidur, hatiku gelisah, pikiranku tak menantu, itulah yang aku rasakan malam ini. Aku melirik jam wekerku. Hah?! Udah jam dua malam?! Aku mulai berusaha memejamkan mata.
KRIING… KRIING… suara jam wekerku membangunkanku. Apa?! Udah jam setengah enam? GAWAT!! Aku telat bangun! Mana ada jam tambahan lagi pagi ini. Aku langsung masuk kamar mandi dan setelah rapi aku langsung turun untuk sarapan.
"Happy B’day ya, sayang…" ucap Bunda saat aku duduk di meja makan.
"Happy B’day, Kinan…" ucap Ayah.
"Makasih," jawabku singkat.
"Lho kok lesu gito sih? Hari ini itu hari ulang tahun kamu, Kinan. Semangat dong!" ucap Kak Adrian.
"Heemm… oh iya planning buat pesta ulang tahun kamu udah Bunda atur kok, tenang aja.." ucap Bunda mencoba menghiburku. "Undangannya tinggal kamu bagiin ke teman-teman kamu, tuh!" lanjut Bunda.
Aku melihat salah satu undangan. Terlihat mewah memang, tapi gara-gara ingat Andre aku jadi nggak mood buat ngerayain pesta ulang tahunku.
"Batalin semuanya, Bunda.. batalin semua catering, batalin semua decor, batalin acara di cafĂ©, batalin semuanya, Bunda… Kinan nggak mau ada pesta ulang tahun hari ini!"
"Sayang?" Bunda menatapku dan mengeryitkan keningnya. "Kamu kenapa? Bukannya ini semua kamu yang planning ya? Dan bunda tinggal urus semua. Kenapa tiba-tiba kamu minta semua ini dibatalin?" Bunda terlihat heran.
"Fiiuuhh…" aku menghembuskan napas panjang dan mencoba menenangkan atiku. "Nggak apa-apa, Bunda. Kinan piker ini nggak ada gunanya. Jadi batalin aja semua." Ucapku mencari alibi untuk Bunda.
"Baik kalau mau kamu seperti itu. Tapi kenapa Bunda lihat mata kamu merah gitu? Sembab lagi?" Bunda terus memperhatikanku.
"Nggak apa-apa kok, Bunda. Ya udah deh, Kinan berangkat dulu. Assalamualaikum…" aku mencium tangan Ayah dan bunda. " Kak, ayo!" aku melempar kunci mobil ke Kak Adrian.
"Siap Bos Kecil…" muka Kak Adrian ngeledek aku.
Sepanjang perjalanan aku yang biasanya cerewet mendadak jadi diam seribu bahasa. "Kamu kenapa sih, Nan? Tadi minta pestanya dibatalin, sekarang murung?" Kak Adrian sudah mulai heran denganku.
"Nggak apa-apa kok, Kak. Eh jangan lupa nanti siang jemput aku!" jawabku saat mobil berhenti di depan gerbang sekolah. "Dan jangan telat!" lanjutku sebelum menutup pintu mobil.
Aku hanya tertunduk selama menuju kelas. Ya, meskipun banyak teman yang mengenalku mengucapkan 'Happy B'day' padaku, tapi kerena mood-ku lagi jelek jadi aku hanya menjawab 'Thanks' dengan datar.
"Happy B'day, sayang…" sambut Andre sambil mengulurkan cokelat dan bunga saat aku memasuki kelas.
"Thanks," jawabku datara tanpa berniat menerima kado Andre.
"Lho si Kinan kenapa tuh? Kok cuek gitu sih?" ucap Rayhan setengah berteriak.
Aku tidak memperdulikan mereka dan langsung melangkah ke bangku tempatku duduk.
"Dim, hari ini aku duduk sama Erick!" ucapku pada Dimas sembari melempar tas Andre.
"Trus gue duduk sama siapa?" tanya Dimas lugu.
"Tuh! Sama cowok yang punya tas itu!!" ucapku cuek.
"Selamat ulang tahun ya Kinan…" ucap Dyah yang menghampiriku.
"Sayang, kamu kenapa sih?" mimic wajah Andre tapak heran.
BRAAAKK!!! Sontak seisi kelas menatap ke arah kita bertiga. Mungkin mereka sedang bertanya-tanya kenapa aku bisa terlihat semarah ini.
"Kalian bener-bener nggak punya hati ya!!!" teriakku dengan nada sopranku kalau aku lagi marah.
"Kamu kenapa sih, Sayang? Kenapa kamu marah-marah gini?" Andre menatapku tajam.
Aku memalingkan pandanganku dan mencoba untuk tak menatap mata Andre, meski dia berusaha untuk meluluhkan hatiku dengan tatapannya.
"Asal kalian tau! Aku ngak buta! Dan aku juga nggak tuli!aku lihat dan denger sendiri obrolan kalian kemarin!" ucapku masih dengan nada tinggi.
"Sayang…" Andre memelukku dan mencoba menenangkanku.
"Apaan sih?! Udah deh lepasin aku!! Aku melepas pelukan Andre.
"Sayang… seharusnya," Andre terdiam. "Sekarang Ray," ucap Andre kemudian.
"Happy B’day Kinan… Happy B’day Kinan… Happy B’dayHappy B’dayHappy B’day Kinan…" tiba-tiba seisi kelas bernyanyi untukku.
"Happy B’day ya, sayang…" ucap Andre.
"Andre… Dyah… resek banget sih!!" rengekku.
Dyah hanya tersenyum kecil melihat sikapku yang seperti anak kecil. Meskipun kini kebahagiaan menyelimuti hatiku, tapi aku merasa ada yang mengganjal. Aku juga nggak tau apa itu. Tapi kenapa aku merasa seperti ada yang disembunyikan mereka berdua?
"Sayang… nanti aku jemput kamu jam tujuh tepat harus sudah siap. Aku mau ajak kamu ke taman biasa," bisik Andre dan aku hanya tersenyum.
Sepanjang hari terasa menyenangkant karena hari ini aku merssa bahagia dan akumerasa menjadi orang paling bahagia di dunia di hari ulang tahunku ini.
"Pokoknya aku harus tampil perfect di depan Andre.." gumamku.
TIN… TIN… klakson mobil Andre memanggilku dan memaksaku untuk turun dan menemuinya. Dengan mobil sedan silvernya Andre mengajakku melesat menuju taman.
Sepanjang perjalanan kita hanya terdiam, tak sepatah kata pun keluar dari mulut kita berdua. Hanya sesekali melempar pandang sampai mobil Andre berhenti di sebuah taman yang menjadi saksi bisu kenangan indah enam bulan yang lalu.
"Kinan…" ucap Andre saat kita berada di tengah taman.
"Iya?" aku menatap Andre penuh tanya.
"Kinan, aku mau bilang sesuatu sama kamu…" ucapnya.
"Apa itu?" aku semakin penasaran dibuatnya.
"Kinan…" Andre menggenggam tanganku erat. "Kinan… aku… aku sayang sama kamu dan aku nggak mau nyakitin kamu, Kinan tapi aku piker ini yang terbaik untuk kita. Aku… aku ingin mengakhiri hubungan kita…" Andre menatapku tajam dan semakin erat menggenggam tanganku.
Tanpa perintah lagi butiran-butiran mutiara jernih mengalir dari sudut-sudut mataku, "Inikah kado yang kamu siapkan untuk kekasihmu di hari ulang tahunnya??" tanyaku dengan terisak.
"Kinan…" ucap Andre pelan.
"Seharusnya aku sudah menyadari semua ini. Uad jelas-jelas aku tau sendiri kalau perasaan kamu cuma buat Dyah, masih berani aku berharap… aku memang bodoh, Ndre… bodoh!" ucapku yang masih terisak.
"Ini yang terbaik. Aku nggak mau nyakitin kamu lebih dari ini," ucap Andre.
Andre terus menatapku. Dia mulai merenggangkan genggaman tangannya, lalu beranjak pergi meninggalkanku yang berlinangan air mata.
Angin malam mulai menusuk tulang. Aku bermaksut untuk pulang dan meningglkan taman penuh kenangan ini. Namun, ada sebuah panggilan masuk dari Dimas. Dimas memberi kabar kalau Andre masuk rumah sakit. Dan air mataku yang belum sepenuhnya mengering kembali mengalir dengan deras membasahi pipiku ketika melihat Andre terbaring lemah di ruang ICU.
"Sabar ya, Kinan…" ucap Dyah.
"Seharusnya kamu nggak perlu ngelakuin semua ini, Ndre…" ucapku pelas.
"Sabar, Nan… kita semua juga baru tau seminggu belakangan ini," ucap Devi mencoba menenangkanku.
"Sebenarnya apa sih yang terjadi? Kenapa Andre bisa mengidap kanker otak stadium akhir? Sejak kapan dia sakit? Dan kenapa kalian nggak pernah kasih tau aku?" berbagai pertanyaan yang muncul di otakku langsung saja aku lontarkan.
"Sebenarnya ini semua salah gue. Kalau saja setahun yang lalu gue certain semuanya ke orang tua Andre, mungkin nggak akan kayak gini jadinya," ucap Dimas tiba-tiba.
"Emang Andre kenapa?" tanyaku menuntut jawaban Dimas.
"Siang itu, gue ikut Andre ke studio pencucian fotonya. Tapi waktu nyuci foto, tiba-tiba saja Andre pingsang. Gue yang panik langsung bawa Andre ke rumah sakit. Dan setelah melakukan pemeriksaan Dokter menyarankan untuk melakukan rongsen," Dimas terdiam.
"Terus apa yang terjadi?" aku semakin nggak bisa mengontrol emosiku.
"Waktu hasil rongsennya keluar, gue sama Andre ke rumah sakit. Dan berdasarkan hasil rongsen itu Dokter memfonis Andre menderita kanker otak stadium tiga. Mulai saat itu Andre menjalani obat jalan dan kemo terapi setiap bulan. Tapi nggak ada hasil dan penyakit Andre semakin parah. Sampai seminggu yang lalu Andre dan gue ke rumah sakit untuk ngambil hasil rongsen yang terakhir. Dan hasilnya kanker di otak Andre semakin ganas. Dokterpun memberitahu Andre kalau kanker otaknya sudah memasuki stadium akhir.." jelas Dimas panjang lebar.
"Terus kenapa kamu baru certain semuanya sekarang? Saat Andre terbaring lemah. Apa harus menunggu kankernya semakin ganas kamu baru mau certain semuanya?" ucapku lirih.
"Itu semua karena Andre yang ngelarang gue, Nan… dia nggak mau lihat orang-orang yang dia sayang sedih," jawab Dimas pelan. "Gue baru kasih tau keluarganya aja seminggu yang lalu," lanjut Dimas dan jawaban itu membuat air mataku semakin deras mengalir.
Sementara Aku, Dimas, Rayhan, Erick, Dyah, dan Devi gelisah di depan ruang ICU, mama Andre terus menangis mendamping anaknya yang sedang terbaring lemah. Aku dan yang lain semakin gelisah dengan keadaan Andre saat melihat dokter dan suster berl;ari menuju ruang ICU.
"ANDREE…..!!! teriakan dari dalam ruang ICU itu membuatku tersentak.
Aku mencoba melihat ke dalam ruangan. Dan tak lama kemudian Dokter dan Mama Andre keluar dengan mimic wajah aneh.
"Tante, Andre nggak apa-apa kan? Andre baik-baik saja kan, Tante?" aku menuntut jawaban yang pasti dari Tante Liana, Mama Andre. Tapi Tante Liana dan Dokter diam seribu bahasa. Tanpa menunggu lagi aku segera masuk ruang ICU dan yang ku lihat hanya suster yang sedang melepas semua peralatan medis.
"Sus, jangan di lepas! Andre pasti bias bertahan! Andre belum mati, Sus! Pasang lagi alat-alatnya! Ayo pasang!" aku langsung histeris.
"Maaf, Mbak… ini sudah menjadi keputusan Bu Liana," jawab suster itu.
"Andre bangun, Ndre! Ndre bangun, Ndre!!" aku menggoncangkan tubuh yang sudah tak bernyawa itu.
"Sabar, Kinan…" tiba-tiba saja Tante Liana memelukku.
"ANDREEE!!!" aku melepas pelukan Tante Liana, lalu memeluk tubuh yang sudah terbujur kaku itu. "Andre apa ini arti ucapanmu tadi? Aku nggak mau secepat ini kehilanganmu…" ucapku pelan.
Kali ini aku benar-benar merasakan perihnya kehilangan seseorang yang benar-benar aku sayangi.