CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 08 Juni 2012

SEPERCIK HARAPKU :'(

Senja tlah merubung
Menanti perbatasan waktu
Sendiri menyeka lara hati
Mati terkubur dalam hatimu

Rindu di penghujung langkah
Nyanyikan lagu sedih dalam jiwa
Sepi merobek lara
Menikam kesendirian ini

Biar semua lukaku terbawa udara,
terbang jauh dari ragaku
Terbawa oleh sang angin,
jauh ke gurun yang tandus

Luka kan menyingkir jauh dari ragaku yang lemah
Hingga kini tak lagi ku rasa lara di hati
Hingga hanya bahagia menghampiri jiwa
Hingga hanya seulas senyum yang terlukis di wajahku

Namun semua tinggallah harap
Cinta ini terus melukai hati
Menulis jejak sedih dalam jiwa
Hingga raga ini pilu karenanya

Jingganya langit tetap setia memayungi hati
Yang selalu melantunkan lara
Karena rasa ini tak lagi mampu memilih
Karena rasa kita tak lagi mampu bertahan

Jumat, 27 April 2012

When I Belive U, U Lied To Me.. :'(

Biar kini ku tanggung semua
Semua memang salahku
Untuk apa ku percayaimu?
Kini semua tlah terjadi

Kalau memang semua ini inginmu
Cukup di sini pertemanan kita
Tak mau lagi ku mengenalmu
Tak ingin rasaku jumpa denganmu

Biar semua kisah pertemanan kita berlalu
Biar waktu yg bicara siapa dirimu
Tak ku sangka kau setega itu
Tak habis pikirku, mengapa kau jatuhkanku??

Dua tahun sudah bersama
Melengkapi kekurangan satu sama lain
Tapi ini begitu mengejutkanku
Terlintas, kau hanya manfaatkanku

P-A-R-A-S-I-T!! Hanya kata itu yg cocok untukmu!!
Kau datang saat kau butuh!
Tapi kau pergi dan tertawa dengan meraka,
Saat ku menangis sendiri.. :'(

Aku tlah mengerti semua. . .
Kini tak ku percaya lagi semua topengmu
Pergi dan menjauhlah dariku!!
Biarkan ku menangis seorang diri!! :'(

Rindu :'(

Ku terima pesan rembulan malam ini
Kini mengerti ku akan perasaanmu
Kan ku ganti semua tangismu dengan senyum di wajahmu
Agar tak ada lagi kesedihan menyelimuti hatimu

Bila memang kau rindukan aku
Tataplah langit malam bima sakti ini
Yakinlah ada satu bintang yang satukan kita
Yang kan sampaikan rindu kita

Pejamkan kedua matamu
Dan bayangkan ku di sampingmu
Yakinlah hatiku kan tetap milikmu
Meski jarak memisahkan kau dan aku

Bila memang air mata harus mengalir di pipimu
Ku kan menangis bersamamu
Agar dapat ku rasa pedih dalam hatimu
Mungkin ini dapat hapus kerinduanmu

Namun jika tiba kita bertemu
Tak ingin ku lihat mutiara jernih itu mengalir di pipimu
Dan kan kau rasa dekapan hangat memelukmu
Hingga bahagia menyelimuti hatimu

SEPI :'(

Hening berteman kesunyian malam
Kerinduan mulai merasukiku
Sungai kecil mulai mengalir dari kedua manik mataku
Adakah kau kan jemputku dalam mimpi?

Dalam hampa hanya berteman bayangmu
Rembulan menatapku sendu,
Seolah mengabarkan keadaanmu
Mungkinkah kau pikirkanku malam ini?

Gelisah mulai merasuk saat tanpamu
Menanti pertemuan tuk lepas rindu ini
Memandang foto yang terbingkai manis
Adakah kau sepertiku malam ini?

Kini semua hanya jadi harap
Tak mungkin terbesit dalam benakmu tuk kembali
Mengapa hanya sesal kini ku rasa?
Saat kau telah pergi dariku

Ku rasa rindu ini semakin merasukiku
Kembali bayangku ke masa lalu
Bermain dengan kenangan indah dalam nostalgia
Namun aku sadar semua ini hanya fana

Ingin ku buang rasa bimbang
Menjauh dari gelapnya hati
Hingga tak ada lagi ragu mengusik
Dan ku yakin hanya kau dalam hatiku

Minggu, 15 April 2012

The Spesial Person In My Life

Kedekatan kami memang berawal dari ketidaksengajaan. Ya, berawal dari satu kelompok saat tugas Bhs. Inggris kami saling bertukar nomor handphone. Kalau dipikir-pikir memang lucu juga, sudah tiga tahun berada dalam satu kelas tapi baru kali ini saling tukar nomor handphone.
Awalnya memang banyak teman yang bilang kalau dia suka sama aku. Entah apalah itu, aku hanya menggapnya sebagai candaan. Nggak ada niatan untuk mengganggap serius.
Setelah beberapa minggu mengenalnya lebih dekat, aku baru tau kalau dia cowok yang asik. Padahal kalau di kelas dia itu tergolong pendiam. Ya, walaupun menurut rumor yang beredar banyak adek kelas yang suka sama dia, tapi aku nggak pernah liat wajah soknya seperti kebanyakan cowok.
Siang yang panas. Meskipun tak ingin rasaku melakukan apapun, tapi tugas TIK ku belum kelar. Akhirnya aku bangkit, mengambil laptop serta modemku, dan mulai mengerjakan.
"Zahra… makan dulu gih! Udah jam setengah satu, nanti maag kamu kambuh. Buruan sini," teriak Bunda dari ruang makan.
Tanpa pikir panjang aku segera meninggalkan kamar dan menuju ruang makan. Setelah selesai makan aku kembali ke kamar dan berniat kembali mengerjakan tugas TIK ku.
"Lho? Ada adek Danish? Kok di kamarku sih?" gumamku saat berada di ambang pintu. "Lho kok ngutak-ngatik laptopku sih?" aku segera menghampiri Danish yang bersama Ryan.
"Kak Zahra, tadi pas Danish datang lagsung masuk kamar Kak Zahra. Ya udah, sama Tante Ericka disuruh nemenin dia," jelas Ryan, lalu dia keluar dari kamarku.
Aku mendekati Danish yang baru berusia dua tahun. "Hay… what are you doing?" tanyaku pada Danish dengan nada seenak mungkin.
"I do something… ini loh gambarnya bagus-bagus, Danish suka.." jawabnya dengan nada cadel khas anak berusia dua tahun.
"What?" pekikku terkejut. "Excuse me… may I borrow this laptop?" lanjutku dengan nada yang sedikit turun.
"Jangan!! Danish pinjam!! Danish pinjam!!" jawabnya sambil memegangi laptopku.
"Eh, Adek Danish mau ice cream nggak?? Mama kamu punya banyak loh, buruan nati dihabisin Kak Ryan loh…" bujukku. Tanpa pikir panjang Danish langsung bangkit dan menemui Mama-nya yang berada di ruang keluarga. Setelah Danish keluar, aku segera menutup pintu kamar.
Sebelum kembali beradu pandang dengan layar laptopku, aku mengecek ponselku. Dua pesan masuk dari Steve? Aku buka pesan Steve itu.
Siang,
Lg apa nih?
Lagi ngerjain tugas TIK,
Kamu?
Lg sms-an ama kamu :)
Eh neng, Ayah neng itu pegusaha indo*** ya?
Duh kebiasaan deh ni cowok, mulai deh gombalannya. Okay lah. Daripada boring melandaku yang sendiri dalam kamar, lebih baik dibalas aja nih sms. Hitung-hitung buat refreshing.
Emang kenapa ya, bang?
Soalnya neng seleraku banget :D
Oh,
Eh bang, abang tau nggak kenapa siang ini panas banget?
Enggak tuh neng,
Mang knp?
Soalnya abang lagi jauh dari aku sih..
Abang kan penyejuk hatuku, :)
#eeaak…
Duh bisa aja nih neng,
Btw, emang tugas PP TIK kamu belum selese?
Nggak biasanya deh,
Males ngerjain aja,
Gapapa dong skali2 males…
Bosen rajin terus, :P
Lho? Kok gitu sih?
Ya udah lanjutin gih,
Okay deh.. :)
Cukup refreshing-nya, sekarang waktunya ngerjain lagi. Tadi, udah sampai bab 3, berarti tinggal satu bab lagi dong. Huh, seneng rasanya bisa cepat-cepat lepas dari nih tugas.
"Lho? Kok? Mana power point TIK ku?" mataku membelalak ketika men-search tugas TIK ku dan tidak diketemukan.
"Danish," ucapku seketika. "Damn!!" gerutuku. "Pasti deh udah ke-delete sama Adek Danish, mana aku nggak punya copy-annya lagi…" lanjutku.
Aku meraih ponselku dan mengirim pesan ke Steve, mungkin dia bisa bantu dan semoga dia mau bantu aku.
:’(
Lho knp cantik?
PP TIK ku ke-delete sama adek Danish.. :(
Mana aku nge-save-nya di flashdisk, dan nggak punya copy-annya.. ya kalo ilang ya ilang deh… :’(
Lho trus gimana? Masak harus diulang dari awal? Sayang banget lho, Zar…
Ya mau gimana lagi? Udah resiko, Steve…
Mau copas punyaku??
Benar saja dugaanku, dia pasti menawarkan bantuannya. Tapi… lebih baik ditolak aja deh, daripada dia berpikiran yang nggak-nggak.
Nggak usah deh, makasih…
Aku ngerjain lagi aja, :)
Butuh bantuan?
Nggak usah…
Aku bisa sendiri kok,
Ya udah,
Cayo!! Semangat, Zahra!! Senin pasti slese, :D
Makasih.. :)
Setelah itu aku langsung kembali beradu pandang dengan latopku. Okay, hari ini harus selesai! Harus! Walaupun harus sepanjang hari aku mengerjakan tugas ini.
"Huh akhirnya kelar juga nih tugas!!" setelah menge-save, aku melihat jam wekerku. "Hah?! Jam delapan lebih lima belas??!! Aku belum mandi lagi!!" aku bangkit dan menuju kamar mandi di kamarku.
Setelah mandi dan ganti baju, aku berniat untuk turun dan ke ruang makan. Tapi….
When you’re gone..
The pieces of my heart are missing you…
When you’re gone..
The face I came to know in missing too….
Lagu 'When You’re Gone' yang menjadi ringtone di handphone­ku berdering. Aku segera menekan tombol hijau tanpa melihat nama yang tertera di layar handphoneku, "Hello…" sapaku dengan nada lemas.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?" sontak aku segera menatap layar handphoneku setelah mendengar suara yang sangat familiar itu.
"Steve?" gumamku. "Aku nggak apa-apa kok.." jawabku.
"Nggak mungkin kamu nggak apa-apa.. kamu pasti lagi sakit. Itu terdengar jelas dari suara kamu, Zahra…" ucap Steve menyelidik.
"Nggak apa-apa kok, cuma kecapekan aja.." jawabku datar.
"Pasti tadi kamu maksain buat ngerjain tugas TIK itu kan? Udah dibilang biar aku yang ngerjain, lihat kan akibatnya sekarang? Kasihan kamunya juga kan? Jadi nggak bisa nikmatin hari minggu kan?" cerocosnya.
"Hehehe…" aku hanya tertawa.
"Lho kok kamu malah ketawa sih?" tanya Steve dengan nada heran.
"Habisnya kamu kalau ngomong itu nggak ada titik-komanya.. Bunda aku aja kalah, hehehe…" jawabku.
"Rese' kamu ya… btw udah makan belum?" tanyanya lagi.
"Belum," jawabku singkat.
"Ya udah makan dulu gih, bye…" ucapnya.
"Bye…" jawabku.
Setelah tersambung dengan mbak tutut, aku langsung menaruh handphoneku dan melangkahkan kaki ke ruang makan.
"Malam, Bunda… Bunda kok belum tidur sih? Udah jam sembilan lho," ucapku sambil menunjuk jam di ruang makan saat melihat Bunda di ruang makan.
"Lagi siapin makan malam buat kamu, sayang…" jawab bunda seraya merangkulku.
"Makasih ya, Bunda…" jawabku sambil mengecup pipi kanan Bunda.
"Ya udah, makan sana.. Bunda tau dari tadi kamu nggak istirahat," ucap Bunda sambil mengecup keningku, lalu Bunda berlalu.
Hai…
Dah makan blm? Buruan makan gih!
Ntar kamu sakit loh, :)
Steve kirim SMS seperti ini? Duh kenapa sih dia jadi perhatian gini sama aku? Apa mungkin Vano dan Deo benar? Apa mungkin Steve beneran punya rasa untuk aku? Argh! Kenapa aku jadi GR gini sih? Tau ah!
Ni lg makan,
Ya udah…
Tidurnya jgn malam2
Okay deh…
Eh, Ra…
Bsk pas plng sekolah jgn plng dulu ya…
Emangnya knp?
Aku mau ngajak kamu ke somewhere, :D
Kemana dulu?
Masih secret, ntar kamu jg tau sndri…
Goog night,
Have a nice dream.. :*
Hah Steve pake emotion cium (:*)? Apa maksudnya nih? Mesra banget sih kesannya? Tapi kenapa hatiku jadi seneng nggak keruan gini sih? Atau jangan-jangan aku… mungkin juga. :D
Good noght,
Have a nice dream too…
PS : Besok jemput aku dong…
Okay,
Emangnya motor kamu knp?
Gapapa…
Pengen berangkat sama kamu aja,
Besok aku tunggu di dpn kompleks ya?
Nggak di rmh aja?
Jgn ntar Ayahku tau..
Nanti aku dimarahin lg, -,-'
Okay, deh… :D
Aku jg ngeri kl Ayah kamu marah..
Oops! Ntar aku nggak diterima jd mantu lg aku…
Hehehe…
#justkidding :P
Huh… rese' kamu!! :@
Eh marah,
Sorry deh..
Udah tidur sana, bsk telat bgn lho, :)
Okay, deh.. :)
Awas ya kamu ulangin lg!
Iya, iy…
Good night… :*
Heemm.. kalau aku baca lagi, SMS-anku sama Steve kayak orang pacaran aja. Udah setengah sepuluh? Tidur dulu ah.
Pagi ini hatiku rasanya dag dig dug. Kok aku jadi nggak keruan gini sih? Tenang, Ra.. tenang. Cuma berangkat bareng aja. Tapi nanti kan Steve ngajak aku nge-date, BUKAN!! Bukan nge-date, cuma jalan biasa, Ra! Jangan terlalu berharap deh, Zahra! Udah deh biasa aja, Ra! Nggak usah nervous ataupun kegeeran!
"Pagi, Ayah… Bunda…" sapaku dengan ceria, lalu duduk di meja makan. "Pagi, Ryan…"
"Lho anak Ayah kenapa nih? Kok ceria banget?" tanya Ayah.
"Nggak apa-apa kok, Ayah.." jawabku sembari mengambil selembar roti dan mengoleskan selai stoberi di atasnya. "Ayah, hari ini aku nggak bawa' motor.." ucapku sambil mencomot roti di hadapanku itu.
"Lho? Trus kamu naik apa? Ayah kamu nggak bisa nganter lho," ucap Bunda khawatir.
"Nggak dianter juga nggak apa-apa kok, Zahra berangkat bereng temen…" jawabku. " Ya udah deh, Ayah… Bunda… Zahra berangkat dulu, Assalamualaikum…" aku mencium tangan kedua orang tuaku setelah membaca SMS dari Steve.
Setelah sampai di depan kompleks aku segera memboncengkan diri di motor yang sangat aku kenal, "Lama ya nunggunya?" tanyaku pada pemegang kemudi.
"Nggak kok, aku juga baru nyampek.." jawabnya, kemudian melajukan.
Setelah sampai diparkiran sekolah, Steve menghentikan motornya dan memintaku untuk ke kelas lebih dulu. Dan bisa ditebak!! Sikap dinginnya kabuh lagi!! Dia yang kemarin perhatian banget sama aku mendadak berubah menjadi cuek!!

Tepat setelah bel pulang berbunyi, Steve mengirim SMS. Sebenarnya males juga aku nenggepin dia. Terlalu abu-abu sih! Kadang perhatian, kadang cuek bebek. Tau ah!! Yang jelas sikapnya hari ini bikin aku bad mood!!
"Kamu nggak pulang, Ra? Pulang yuk!!" ajak Ria teman sebangkuku.
"Kamu pulang dulu aja, aku masih ada yang harus diselesin.." jawabku mencari alibi supaya dia nggak curiga.
"Okay, deh.." jawab Ria seraya melangkahkan kakinya keluar kelas.
Setelah di kelas hanya tinggal aku dan dia, pemuda itu mendekat ke arahku dan mengajakku ke tempat yang dia maksud kemarin.
"Taman ini?" gumamku saat dia menggentikan motornya di taman yang tak jauh dari sekolah.
"Iya…" ucapnya nggak kalah pelan.
Aku turun dari boncengannya dan duduk di dekat danau kecil di taman itu, dan sepertinya dia mengikuti langkahku. Aku nggak tau apa maksudnya membawaku ke sini?
"Your favorite place, isn’t it?" ucapnya memandang lurus ke depan.
"Dari mana kamu tau?" jawabku singkat.
"Ra…" tatapannya padaku seolah menjawab 'Tentu saja aku tau, Ra.'. Namun dia tak menjawab dan hanya terdiam.
"Steve?? Steve, kenapa kamu tega sama aku? Kenapa kamu mainin perasaanku? Kenapa kadang kamu perhatian banget sama aku, kadang kamu kamu cuek sama aku?" ucapku tanpa menatap lawan bicaraku itu.
"Maaf, Ra…"
"Apa karna ada perbedaan besar yang melintas diantara kita?" tanyaku lagi.
"Agama bukan hal kecil, Ra. Biar semua rasa ini tetap tertanam dalam hatiku, walau ku tau ini salah. Namun apa dayaku tak mampu menepis pesonamu. Entah sejak kapan kamu mulai mengisi hatiku dan menjadi bagian dari hidupku. Dan ku rasa bahagia walau tak dapat memilikimu seutuhnya, megagumimu itu lebih dari cukup untukku," ucapan Steve itu membuatku tercengang.
"Maksud kamu?" tanpa sadar terbentuk sungai kecil yang mengalir dari kedua sudut mataku.
Steve menatap kedua manik mataku tajam dan mengusap pipiku pelan, "Kalau kita mau, kita bisa nggak pacaran. Tapi, Agama itu masalah sakral, Ra.." ucapnya.
"Sejak awal aku tau kamu beragama protestant, aku tak berniat untuk jatuh cinta sama kamu. Tapi kedekatan kita selama beberapa minggu ini membuat hatiku berkata lain, Steve…" ucapku kemudian.
"Aku memang salah.. seharusnya kita nggak pernah tukeran nomor handphone waktu itu. Seharusnya cuma aku yang ngerasain sakit ini, biar saja aku yang memendam perasaan ini tanpa membuatmu seperti ini.. aku memang bodoh, Ra.." ucapnya.
"Tapi ini semua sudah terlanjur, Steve…" jawabku.
"Biar aku yang memendam perasaan ini, tanpa membuatmu sakit dan menyesal. Mungkin ini yang terbaik untuk kita.." ucapnya.
"You’re always be the special person in my life, Steve…" ucapku sembari memeluknya dan arus sungai yang mengalir di pipiku semakin deras aku rasakan.
"Udah dong… jangan nangis lagi ya," lagi-lagi usapan lembut itu aku rasa menyapu pipiku. "Kita bisa sahabatan kan? Aku janji nggak akan cuek sama kamu lagi deh," lanjutnya.
"Janji?" aku menyodorkan kelingkingku menunggu jawaban Steve.
"Janji…" jawabnya sambil menautkan kelingkingnya di kelingkingku. "Udah dong, sekarang senyum…" pintanya.
***
"Steve apaan sih kamu?! Deo! Apaan sih kalian?! Vano kembaliin sini!!" ucapku pada tiga sobatku itu.
"Ambil aja nih! Eits! Eits!" Deo memutar-mutar pulpenku.
"Apaan sih kalian?! Bercandanya nggak lucu tau!" ucapku lalu duduk di bangkuku.
"Eh udah-udah… ngambek tuh anak orang," suara Steve itu terdengar olehku meskipun aku nggak peduli.
"Nih! Kasihin gih, Steve!"
"Nih pulpennya!" ucap Steve yang duduk menghadap ke arahku. "Kok cemberut sih? Tambah jelek tau!" ledeknya, sontak tawa Deo dan Vano meledak.
"Steve apaan sih!!" pekik ku.
Dua minggu sejak sudah kejadian di taman itu, 'Thanks udah nepatin janji kamu, Steve. Thanks udah nggak cuek lagi sama aku. And you’re the special person in my life…' gumamku dalam hati.
***

Senin, 09 April 2012

Maaf!! Aku Tak Bisa Melupakannya

Empat puluh hari sudah berlalu, masih teringat jelas peristiwa yang sangat memukulku itu. Mengapa dia lakukan itu semua padaku? Mengapa dia sembunyikan semua dariku? Andai wakttu itu dia lebih terbuka, mungkin nggak akan seperti ini jadinya.
"Kinan.." sontak aku terkejut karena ada yang menyentuh pudakku walaupun  itu pelan.
"Apa?" tanyaku setelah mengetaui Erick-lah pelakunya.
"Kamu belum bisa ikhlas atas kepergian Andre?" Erick mencoba membaca isi hatiku.
"Andre terlalu punya tempat di hatiku, Rick.." jawabku lirih.
"Mungkin Andre memang punya tempat yang istimewa di hati kamu, tapi kalau kamu seperti ini terus Andre juga akan sedih lihatnya.." Erick mulai merangkulku.
"Tapi nggak semudah itu buat aku lupain Andre, Rick.. aku masih terpukul sekali," ucapku tanpa menyadari anak sungai mulai terbentuk dari sudut-sudut mataku.
"Udah dong.. kok malah nangis sih?? Aku kan nggak nyuruh kamu buat nangis.." wajah Erick terlihat lucu kalau khawatir gini.
"Hehehehe.." aku jadi geli lihat raut wajah khawatirnya itu.
"Lho kok malah ketawa sih??" raut wajahnya berubah menjadi heran.
"Habisnya kamu lucu kalo kayak gitu.. hehehehe.." ucapku terkekeh.
Bel pertanda jam istirahat sudah selesai memangil kita, "Eh, udah bel tuh. Balik ke kelas yuk!" ucap Erick sambil menarik tanganku, memaksaku bangkit dari tempat dudukku.
Tanpa aku tau sebabnya, aku dan Erick mejadi perhatian seisi kelas saat memasuki kelas. Seketika juga aku melihat tangan kiri Erick yang masih menggandeng tangan kananku.
"Sorry, Rick.. lepasin dong," bisikku pada Erick.
"Oh, okay.. sorry ya," jawabnya sambil langsung melepaskan tangan kirinya dari tangan kananku.
"Hei! Dari mana aja sih kalian? Dari tadi dicariin juga," suara cempreng Devi membuat aku dan Erick tersentak.
"Eh.. hem.. dari taman sekolah," jawabku.
"Berdua aja? Kok nggak ngajak-ngajak sih?" selidik Dyah.
"Wah jangan-jangan.." goda Dimas.
"Apaan sih lo, Dim!" jawab Erick yang langsung ngeloyor ke bangkunya.
"Iya, kayak cintanya habis ditolak aja," sahut Rayhan "Wa jangan-jangan habis lo tolak ya, Nan?" lanjutnya.
"Kinan? Lo masih belum bisa ikhlasin kepergian Andre?" ucap Dyah yang melihatku memegang foto Andre.
"Hem? Nggak kok, aku udah bisa terima keadaan ini. Tenang aja, guys.."  jawabku sembari membentuk sudut di bibirku.

***

Hari demi hari berlalu. Kenapa sekarang aku merasa Erick lebih perhatian sama aku? Heemm.. mungkin karena Erick sobat aku. Tapi ini bukan Erick yang biasanya. Erick kan cuek dan nggak pernah mau tau dan sekarang sikapnya ke aku berubah 180o.
Pulang sekolah siang ini, aku berniat menyelesaikan novel pertamaku yang sudah di-deadline sama penerbit. Tapi disela-sela kesibukanku menekan huruf demi huruf di keyboard laptopku, ada sebuah pesan masuk, aku pun langsung membuka pesan itu.

Mungkin cinta tak berlangsung selamanya,
Tp cinta yg membuatmu bertahan..
Bertahan dari perihnya luka yg dia gores krn kepergiannya u/ selamanya..
Namun kini ku kan datang dan berimu cinta yang baru,
Cinta yg penuh kekurangan,
Tp percayalah ini tulus dariku..

Pesan masuk itu ternyata dari Erick. Sebenarnya apa maksudnya mengirim pesan seperti itu?

???

Tak lama kemudian handphone-ku bergetar, ada balasan dari Erick.


Luka yg kamu rasakan itu hanya sementara..
Dgn iringan waktu kamu kan terbiasa,
Ikhlas-lah krn Allah kan mengganti semua luka itu dgn kebahagiaan..
Mengganti semua air mata yg kau reteskan dg senyum manis di wajahmu..
Dan jk Allah mengijinkan semua kan indah pd waktunya…

Kenapa tiba-tiba Erick jadi puitis gini ya? Kesambet apa sih tuh anak? Atau jangan-jangan dia salah makan tadi pagi? So, nobody can know someone’s mind.

Kamu kenapa ya, Rick? Emang tadi pagi kamu makan apaan sih? Kok berubah jadi aneh gini sih?

Don’t close Ur heart 4 love just ‘cause the wound in your heart.. Open Ur heart 4 new love, I believe U can be happy..

I know.. but so hard for remove him from my heart & my mind..
And I never find someone like him,

Ya udah lah.. yg pntng kamu nggak sedih lg, :)

Iya, Rick..
Makasih ya td udah bkn aku smile,

Iy,
Btw.. lg ngapain sih?

Lg nulis..
Abisnya udah di deadline ma penerbit nih,

Oh, good luck ya…
Eh dah dulu ya, aku mau latihan basket dulu…

Okay, deh…

Kenapa rasanya messenger-anku sama Erick nggak nyambung sama pesan pertama yang dia kirim ya? Aku coba buka kembali pesan dari Erick. Dan ternyata benar, ada kalimat yang membuatku tercengang saat membacanya lagi. 'Namun kini ku kan datang dan berimu cinta yang baru.' Cinta yang baru? Apa maksudnya? Mungkin cinta or rasa kasih sayang seorang sahabat untuk sahabatnya kali ya? What ever!
Inspirasiku seakan mengantre untuk ku tuangkan. Nggak sampai dua jam aku beradu pandang dengan layar laptop udah siap aja nih novel pertamaku. Sekarang saatnya kirim e-mail ke penerbit.
Sampai jam dua belas malam nggak ada e-mail balasan dari penerbit. Padahal kemarin mereka terus memburuku untuk menyelesaikan novel pertamaku itu, sekarang nggak ada balasan e-mail. Sudahlah, sudah malam juga, lebih baik aku tidur aja.
Pagi hari dengan suasana yang sama seperti biasanya, tak ada yang istimewa. Hanya deru suara kendaraan yang terdengar olehku, maklum saja aku kan tinggal di daerah kota.
Aku menggapai ponselku di meja kecil samping kiri tempat tidurku. Ada dua pesan masuk dari Erick? Tumben baget Erick SMS sepagi ini? Aku buka pesan dari Erick itu.

Hey,
Guten morgen, girl..
Udah bengun belum nih?

Hah? Tumben banget sih Erick SMS seperti ini? Padahal kan Erick itu nggak pernah SMS kecuali penting, apalagi hanya untuk mengucapkan selamat pagi.

Guten morgrn too,
Ini baru bangun..

Eh kok baru bangun sih?
Udah jam berapa ini?

Jam 6, kan masuknya jam 8..

Lho? Ini anak lupa apa pura2 lupa sih?
Hari ini ka nada tambahan pelajaran sih, Kinan…

Hah? OMG! I forget about it!
Oh NOOO!!!

Buruan mandi gih,
Eh btw, berangkat bareng yuk..
Aku jemput kamu 20 mnt lg..

Okay,

Pagi ini perasaanku kok dag dig dug gini sih? What?!!% Dag dig dug?? Kayak lagunya Blink aja nih. Duh nggak mungkin banget deh! Erick kan sahabatku, jadi nggak mungkin kalau hatiku sampai dag dig dug cuma karena berangkat bareng Erick.
"Hei, kok kamu tiba-tiba lupa kalau ada tambahan pelajaran buat UNAS sih?" tanya Erick saat tiba di parkiran sekolah.
"Emang sekarang hari apa sih?" aku berbalik tanya pada Erick.
"Hari Rabu," jawab Erick singkat.
"What??!!!%" aku menepuk keningku dan menarik tangan kanan Erick yang memakai jam tangan. "Aku kan ada janji sama Bu Intan, sepuluh menit sebelum bel masuk. Aku ke ruang guru dulu deh," aku melangkah cepat meninggalkan Erick.
"Eh tunggu, Kinan!!" teriakan Erick itu masih dapat ku dengar dan sekarang dia menyamai langahku.
"Apa??" tanyaku singkat.
"Sini tas sama buku kamu, biar aku yang bawa," Erick menawarkan bantuannya.
"Nggak usah deh. Siapa tau ntar nyatet trus butuh buku sama pulpen.." tolakku.
"Nggak apa-apa, kamu kan bias nyatet di handphone," saran Erick.
"Makasih.. tapi nggak perlu. Eh, aku masuk ke ruang guru dulu deh. Kalau kamu ke kelas dulu ya nggak apa-apa kok," ucapku pada Erick lalu masuk aku ruang guru.
Ternyata Bu Intan cuma bilang ada ulangan Matematika sehabis jam pelajaran tambahan. Hanya ulangan Matematika. What??!!% ULANGAN MATEMATIKA?!! Duh kemarin kan aku nggak belajar sama sekali. Ya sudahlah, berharap Bu Intan lagi baik jadi soalnya nggak susah.
"Attention, please.." ucapku saat memasuki ruang kelas yang masih ramai karena belum ada guru yang mengisi. "Hello, guys.. attention to me, please.." teriakku lai karena nggak ada yang memperhatikanku.
"Okay, Kinan.." jawab mereka serempak.
"Okay, guys.. tadi aku dikasih tau sama Bu Intan, katanya ada ulangan Matematika habis jam pelajaran tambahan," ucapku menyampaikan pesan Bu Intan.
"Hah?! ULANGAN MAT?!" tanya Dyah nggak pecaya.
"Iya," jawabku lalu ngeloyor ke bangkuku.
Dan benar saja, setelah jam tambahan selesai Bu Intan langsung masuk kelas XII-IPA1, kelasku. Setelah membagikan soal, Bu Intan langsung memasang mata elangnya. Untungnya aku sudah paham tipe soal seperti ini, jadi nggak susah untukku mengerjakannya.
Hari ini terasa cepat, entah karena pelajaran hari ini semuanya favoritku atau karena yang lain. Entahlah! Pulang sekolah, siang ini Erick mengajakku jalan.
"Nan… makan yuk! Cacing di perut gue udah pada demo nih," ajaknya saat kita berada di toko aksesoris.
"Okay," jawabku singkat, lalu menarik tangannya dan menggandenganya menuju sebuah café.
Aku dan Erick makan siang untuk mengganti energi kita yang terbuang karena berkeliling mall. Capcay, mie goreng, dan es campur yang kita pesan tak ada yang tersisa.
"Nan, aku mau ngomong sama kamu.." ucap Erick setelah makanan di meja habis.
"Heemm??" tanyaku penasaran.
"Nan, mungkin aku nggak seromantis Andre, tapi aku harus jujur ke kamu. Awalnya aku memang hanya ingin buat kamu tersenyum. Karna kan semenjak kepergian Andre kamu selalu terlihat murung. Tapi lama-kelamaan aku menyadari ada satu rasa dalam hatiku," ucapnya sambil menggenggam tanganku.
"Maksud kamu?" aku tak mengerti apa yang diucapkan Erick, tapi aku dapat menebak kalimat selanjutnya yang akan dia katakana.
"Kinan.. aku sayang kamu," ucap Erick. Benarkan? Aku sudah tau arah pembicaraannya pasti ke situ.
"Maaf, Rick.." jawabku lalu tertunduk diam.
"Aku tau, Nan.. kamu hanya menganggapku sebagai teman biasa kan? Aku ngerti itu kok, Kinan.." ucapnya.
"Nggak, Rick.. aku anggap kamu lebih dari teman," ucapku seraya disambut Erick dengan senyum manis di bibirnya.
"Maksud kamu?" wajah Erick dihampiri keterkejutan.
"Iya.. aku anggap kamu lebih dari teman biasa.." aku mengembangkan senyumku. "Iya.. aku anggap kamu lebih dari teman biasa karna kamu itu sobat istimewaku." ucapku sambil menepuk bahu Erick.
"Aku ngerti itu, Kinan.." jawab Erick tanpa mengurang sudut yang terbentuk di wajahnya.
"Maaf, Rick.. kamu belum bisa menggantikan posisi Andre di hatiku, tapi kamu bisa mengisi hatiku sebagai sobat istimewaku.." sudut itu pun semakin terbentuk di wajah Erick.
Andre memang the special person in my life and I never find someone like him. I just can pray for him, hope for his happiness.