"Si Andre suka sama kamu tuh, Nan !!" Sontak seisi kelas langsung menatap ke arahku
dan Andre setelah mendengar teriakan Dimas itu.
"Rick, lo pindah dong!! Nggak
enak tau dilihatnya!!" celoteh Rayhan.
"Eh iya deh, kasihan Andre juga
kalo gue duduk sama Kinan. Okay gue
pindah…" Erick ikut-ikutan menggodaku.
Dimas, Rayhan, Erick, dan Andre
memang sobat akrabku, jadi aku selalu menganggap mereka bercanda. Tapi
sepertinya kali ini mereka serius karena hampir setiap hari mereka berkata
seperti itu padaku. Apalagi ketika mereka tau aku putus dari Aditya, semakin
sering saja mereka menggodaku. Mengganggu? Tentu iya! Saat aku ngobrol sama
Andre, pasti deh suara bisik-bisik penghuni kelas mulai terdengar padahal kan kita cuma ngobrolin
pelajaran.
"Benar nggak sih lo suka sama
Kinan, Ndre?" Tanya Devi.
"Iya nih! Kalau lo beneran suka
sama Kinan kenapa nggak lo tembak aja sih dia?! Bosen tau dengerin mereka
bertiga!" ucap Dyah.
"Mumpung Kinan lagi single tuh! Ntar kalau udah jadi milik
orang gigit jari lo! Atau jangan-jangan kalian udah jadian ya??" Devi
menyelidik.
"Hah??!!%"
mataku langsung membelalak.
"Cie… kagetnya barengan
nih…" goda Dimas yang melihatku dan Andre terkejut hamper bersamaan.
Sontak aku langsung menoleh ke arah
Andre. Lama aku menatap Andre dan Andre juga menatapku dengan tatapan yang
aneh.
"Hei!! Kok nggak dijawab sih?
Malah tatap-tatapan!" pertanyaan Dyah itu membuatku tersentak.
"Enggak kok… kita cuma…"
ucap Andre terpotong.
"Kita cuma temenan nggak
lebih," jawabku datar.
"Oh…" ucap seisi kelas,
lalu mereka kembali ke kesibukan masing-masing.
Semenjak kejadian itu aku bermaksud
menjauhi Andre. Tapi kenapa yang aku rasain aku semakin dekat dengan Andre ya?
Mungkin karena dia sobatku dan kita udah deket dari dulu. Atau mungkin karena
ketiga temenku yang berusaha buat nyomblangin aku sama Andre?
Mungkin memang bener kalau
kedekatanku dengan Andre ini karena ulah ketiga sobatku itu. Karena yang aku
rasain sekarang aku nggak bisa jauh dari Andre. Dan lama-kelamaan hubungan kita
lebih dari sekedar teman.
Andre cowok yang baik dan penyayang.
Dia selalu bisa tenangin aku kalau aku emosi. Dia selalu bisa hibur aku saat
aku sedang sedih. Dan yang paling penting, dia bisa ngimbangin sifat childish-nya aku. Ya, itulah yang aku
rasakan selama enam bulan menjadi kekasih Andre.
Tapi kenapa belakangan ini sifat
Andre berubah? Dia jadi cuek, dingin, dan seperti ingin menjauhiku. Apa ada
yang lain di hatinya? Apa dia punya kekasih lain? ENGGAAAKKK!!! Aku nggak boleh
negative thinking! Mungkin dia lagi
sibuk sama ekskul basket dan photographer-nya.
Apalagi dia akan mewakili sekolah untuk Teen
Photographers di Bandung. Ya, itu yang dia katakana padaku tadi pagi.
Bel pulang berdering. Ada yang terlihat senang,
ada juga yang terlihat kecewa karena materi Fisika kali ini belum begitu
dimengerti.
"Kinan, lo pulang sendiri aja
ya. Sorry gue nggak bisa ngater. Masih
ada urusan," ucap Andre padaku.
Hah?! Kasar banget sih?! Kinan??
Sejak kapan dia panggil aku dengan sebutan nama?? Biasanya juga sayang, cantik,
atau nggak honey. Dialegnya juga?!
Sejak kapan dia pake dialeg gue-lo sama aku?? Ah sudah lah!! Aku harus tetap positive thinking. Mungkin mood-nya lagi jelek.
"Oh," aku tertegun.
"Gapapa kok, hari ini aku juga dijemput sama Kak Adrian ." lanjutku nggak kalah cuek.
Kemudian aku bangkit dari bangku dan menghampiri Devi.
"Dev, pulang yuk!" ajakku.
"Dy, buruan deh!" ucap
Devi pada Dyah.
"Kalian duluan aja, aku masih
ada ekskul," jawab Dyah.
"Oh ya udah. Kita duluan
ya…" ucapku.
Aku dan Devi melangkahkan kaki
keluar kelas. Sepanjang perjalanan ke pintu gerbang kami mengobrolkan apa yang
bisa dibahas.
"Eh Nan ,
tadi gue nggak sengaja denger obrolan lo sama Andre. Gue denger Andre
ngomongnya pake gue lo gitu. Kasar banget loh kesannya. Emang kalian lagi
rebut? Atau lagi ada masalah gitu?" Tanya Devi.
"Nggak kok. Mood-nya lagi jelek aja kali,"
jawabku datar.
"Terus, kok lo nggak dianterin
pulang sih?" tanya Devi.
"Dia ka nada ekskul
photographer hari ini," jawabku enteng.
"Tapi biasanya kan lo selalu dianter
pulang? Ya walaupun ada ekskul, dia pasti nyempetin diri buat ngenter lo pulang
dulu." Devi sedikit menyelidik.
"Katanya sih ada sedikit problem. Eh bay the way, hari ini ekskulnya cuma photographer
kan ?"
jelasku sembari bertanya.
"Iya.." jawabnya.
"Lho?? Bukannya tadi si Dyah bilang masih ada ekskul?? Emang dia ikut
ekskul photographer ya?" Devi
terlihat penasaran.
"Tau deh," jawabku cuek.
"Eh Nan, tadi lo nyatet materi
Fisika kan ?
Gue pinjem dong.." ucapnya.
"Kebiasaan deh! Pasti nggak
nyatet lagi kan ?!"
tanyaku menyelidik.
"Hehehehe…" Devi terkekeh.
"Lho?? Buku Fiskaku mana
ya?" aku mengobrak-abrik isi tasku. "Aduh! Kayaknya ketinggalan di
atas meja deh," lanjutku.
"Kok bisa sih, Nan ?" tanya Devi.
"Tau deh," aku
mengeryitkan kening. "Aku cek ke kelas dulu deh," lanjutku sembari
melangkahkan kaki kembali ke kelas.
"Gue tunggu di depan deh!"
ucap Devi.
"Okay," jawabku setengah
berteriak.
Ketika aku sampai di depan kelas,
aku memperlambat langkahku karena aku mendengar obrolan dari dalam kelas.
"Tapi Kinan itu
sahabatku…" ucap suara cewek dari dalam kelas.
Kinan? Kenapa bawa-bawa namaku?
Siapa sih yang ada di dalam kelas? Aku mulai penasaran dan mencoba melihat ke
dalam.
"Tapi aku sayang sama kamu,
Dyah.!!"
What??!!% Andre?!
Dyah?! Ada
hubungan apa mereka? Apa mungkin memang benar dugaanku selama ini? Apa Andre
sudah menduakanku?
"Ku juga sayang sama kamu. Tapi
hubungan ini harus kita akhiri karna kamu sudah terikat dengan Kinan, aku nggak
mau nyakitin Kinan," ucap Dyah.
"Kinan? Aku sama sekali nggak
punya perasaan untuk dia! Aku sayangnya cuma sama kamu, Dyah.." tanpa aku
sadari mutiara jernih ini mulai berjatuhan dari sudut-sudut mataku.
"KINAN!!" teriakan mereka
berdua masih dapat ku dengar.
Aku memeluk Devi saat aku sampai di gerbang sekolah. Devi
tampak heran dengan diriku, "Kinan? Lo kenapa? Kenapa lo nangis?" aku
tak menjawab dan masih sesenggukan.
TIN! TIN! Suara klakson mobil Kak
Adrian membuatku tersentak. "Kinan…" panggil Kak Adrian.
"Iya, Kak…" jawabku.
"Aku pulang dulu deh," ucapku pada Devi.
Aku terus-terusan memikirkan kalimat
yang terucap dari bibir Andre tadi siang. 'Tapi aku sayang sama kamu, Dyah.!!'
'Kinan? Aku sama sekali nggak punya perasaan untuk dia! Aku sayangnya cuma sama
kamu, Dyah..'
'Tapi aku sayang sama kamu, Dyah.!!'
'Kinan? Aku sama sekali nggak punya perasaan untuk dia! Aku sayangnya cuma sama
kamu, Dyah..' kalimat it uterus teringang di telingaku. Otakku berputar keras,
hatiku terus bertanya-tanya.
Angin malam mulai menusuk tulang,
tak kusadari sejak tadi sore yang kulakukan hanya berdiri dan melamun di balkon
kamar.
KRIING… KRIING… suara jam wekerku
membangunkanku. Apa?! Udah jam setengah enam? GAWAT!! Aku telat bangun! Mana
ada jam tambahan lagi pagi ini. Aku langsung masuk kamar mandi dan setelah rapi
aku langsung turun untuk sarapan.
"Happy B’day ya, sayang…" ucap Bunda saat aku duduk di meja
makan.
"Happy B’day, Kinan…" ucap Ayah.
"Makasih," jawabku
singkat.
"Lho kok lesu gito sih? Hari
ini itu hari ulang tahun kamu, Kinan. Semangat dong!" ucap Kak Adrian.
"Heemm… oh iya planning buat pesta ulang tahun kamu
udah Bunda atur kok, tenang aja.." ucap Bunda mencoba menghiburku.
"Undangannya tinggal kamu bagiin ke teman-teman kamu, tuh!" lanjut
Bunda.
Aku melihat salah satu undangan.
Terlihat mewah memang, tapi gara-gara ingat Andre aku jadi nggak mood buat ngerayain pesta ulang tahunku.
"Batalin semuanya, Bunda..
batalin semua catering, batalin semua
decor, batalin acara di cafĂ©, batalin semuanya, Bunda… Kinan
nggak mau ada pesta ulang tahun hari ini!"
"Sayang?" Bunda menatapku
dan mengeryitkan keningnya. "Kamu kenapa? Bukannya ini semua kamu yang planning ya? Dan bunda tinggal urus
semua. Kenapa tiba-tiba kamu minta semua ini dibatalin?" Bunda terlihat
heran.
"Fiiuuhh…" aku
menghembuskan napas panjang dan mencoba menenangkan atiku. "Nggak apa-apa,
Bunda. Kinan piker ini nggak ada gunanya. Jadi batalin aja semua." Ucapku
mencari alibi untuk Bunda.
"Baik kalau mau kamu seperti
itu. Tapi kenapa Bunda lihat mata kamu merah gitu? Sembab lagi?" Bunda
terus memperhatikanku.
"Nggak apa-apa kok, Bunda. Ya
udah deh, Kinan berangkat dulu. Assalamualaikum…" aku mencium tangan Ayah
dan bunda. " Kak, ayo!" aku melempar kunci mobil ke Kak Adrian.
"Siap Bos Kecil…" muka Kak
Adrian ngeledek aku.
Sepanjang perjalanan aku yang
biasanya cerewet mendadak jadi diam seribu bahasa. "Kamu kenapa sih, Nan ? Tadi minta pestanya dibatalin, sekarang
murung?" Kak Adrian sudah mulai heran denganku.
"Nggak apa-apa kok, Kak. Eh
jangan lupa nanti siang jemput aku!" jawabku saat mobil berhenti di depan
gerbang sekolah. "Dan jangan telat!" lanjutku sebelum menutup pintu
mobil.
Aku hanya tertunduk selama menuju
kelas. Ya, meskipun banyak teman yang mengenalku mengucapkan 'Happy B'day' padaku, tapi kerena mood-ku lagi jelek jadi aku hanya
menjawab 'Thanks' dengan datar.
"Happy B'day, sayang…" sambut Andre sambil mengulurkan cokelat
dan bunga saat aku memasuki kelas.
"Thanks," jawabku datara tanpa berniat menerima kado Andre.
"Lho si Kinan kenapa tuh? Kok
cuek gitu sih?" ucap Rayhan setengah berteriak.
Aku tidak memperdulikan mereka dan
langsung melangkah ke bangku tempatku duduk.
"Dim, hari ini aku duduk sama
Erick!" ucapku pada Dimas sembari melempar tas Andre.
"Trus gue duduk sama
siapa?" tanya Dimas lugu.
"Tuh! Sama cowok yang punya tas
itu!!" ucapku cuek.
"Selamat ulang tahun ya
Kinan…" ucap Dyah yang menghampiriku.
"Sayang, kamu kenapa sih?"
mimic wajah Andre tapak heran.
BRAAAKK!!! Sontak seisi kelas
menatap ke arah kita bertiga. Mungkin mereka sedang bertanya-tanya kenapa aku
bisa terlihat semarah ini.
"Kalian bener-bener nggak punya
hati ya!!!" teriakku dengan nada sopranku kalau aku lagi marah.
"Kamu kenapa sih, Sayang?
Kenapa kamu marah-marah gini?" Andre menatapku tajam.
Aku memalingkan pandanganku dan
mencoba untuk tak menatap mata Andre, meski dia berusaha untuk meluluhkan
hatiku dengan tatapannya.
"Asal kalian tau! Aku ngak
buta! Dan aku juga nggak tuli!aku lihat dan denger sendiri obrolan kalian
kemarin!" ucapku masih dengan nada tinggi.
"Sayang…" Andre memelukku
dan mencoba menenangkanku.
"Apaan sih?! Udah deh lepasin
aku!! Aku melepas pelukan Andre.
"Sayang… seharusnya,"
Andre terdiam. "Sekarang Ray," ucap Andre kemudian.
"Happy B’day Kinan… Happy
B’day Kinan… Happy B’day… Happy B’day… Happy B’day Kinan…" tiba-tiba seisi kelas bernyanyi untukku.
"Happy B’day ya, sayang…" ucap Andre.
"Andre… Dyah… resek banget
sih!!" rengekku.
Dyah hanya tersenyum kecil melihat
sikapku yang seperti anak kecil. Meskipun kini kebahagiaan menyelimuti hatiku,
tapi aku merasa ada yang mengganjal. Aku juga nggak tau apa itu. Tapi kenapa
aku merasa seperti ada yang disembunyikan mereka berdua?
"Sayang… nanti aku jemput kamu
jam tujuh tepat harus sudah siap. Aku mau ajak kamu ke taman biasa," bisik
Andre dan aku hanya tersenyum.
Sepanjang hari terasa menyenangkant
karena hari ini aku merssa bahagia dan akumerasa menjadi orang paling bahagia
di dunia di hari ulang tahunku ini.
"Pokoknya aku harus tampil perfect di depan Andre.." gumamku.
TIN… TIN… klakson mobil Andre
memanggilku dan memaksaku untuk turun dan menemuinya. Dengan mobil sedan
silvernya Andre mengajakku melesat menuju taman.
Sepanjang perjalanan kita hanya
terdiam, tak sepatah kata pun keluar dari mulut kita berdua. Hanya sesekali
melempar pandang sampai mobil Andre berhenti di sebuah taman yang menjadi saksi
bisu kenangan indah enam bulan yang lalu.
"Kinan…" ucap Andre saat
kita berada di tengah taman.
"Iya?" aku menatap Andre
penuh tanya.
"Kinan, aku mau bilang sesuatu
sama kamu…" ucapnya.
"Apa itu?" aku semakin
penasaran dibuatnya.
"Kinan…" Andre menggenggam
tanganku erat. "Kinan… aku… aku sayang sama kamu dan aku nggak mau
nyakitin kamu, Kinan tapi aku piker ini yang terbaik untuk kita. Aku… aku ingin
mengakhiri hubungan kita…" Andre menatapku tajam dan semakin erat menggenggam
tanganku.
Tanpa perintah lagi butiran-butiran
mutiara jernih mengalir dari sudut-sudut mataku, "Inikah kado yang kamu
siapkan untuk kekasihmu di hari ulang tahunnya??" tanyaku dengan terisak.
"Kinan…" ucap Andre pelan.
"Seharusnya aku sudah menyadari
semua ini. Uad jelas-jelas aku tau sendiri kalau perasaan kamu cuma buat Dyah,
masih berani aku berharap… aku memang bodoh, Ndre… bodoh!" ucapku yang
masih terisak.
"Ini yang terbaik. Aku nggak
mau nyakitin kamu lebih dari ini," ucap Andre.
Andre terus menatapku. Dia mulai
merenggangkan genggaman tangannya, lalu beranjak pergi meninggalkanku yang
berlinangan air mata.
Angin malam mulai menusuk tulang.
Aku bermaksut untuk pulang dan meningglkan taman penuh kenangan ini. Namun, ada
sebuah panggilan masuk dari Dimas. Dimas memberi kabar kalau Andre masuk rumah
sakit. Dan air mataku yang belum sepenuhnya mengering kembali mengalir dengan
deras membasahi pipiku ketika melihat Andre terbaring lemah di ruang ICU.
"Sabar ya, Kinan…" ucap
Dyah.
"Seharusnya kamu nggak perlu
ngelakuin semua ini, Ndre…" ucapku pelas.
"Sabar, Nan …
kita semua juga baru tau seminggu belakangan ini," ucap Devi mencoba
menenangkanku.
"Sebenarnya apa sih yang
terjadi? Kenapa Andre bisa mengidap kanker otak stadium akhir? Sejak kapan dia
sakit? Dan kenapa kalian nggak pernah kasih tau aku?" berbagai pertanyaan
yang muncul di otakku langsung saja aku lontarkan.
"Sebenarnya ini semua salah gue.
Kalau saja setahun yang lalu gue certain semuanya ke orang tua Andre, mungkin
nggak akan kayak gini jadinya," ucap Dimas tiba-tiba.
"Emang Andre kenapa?"
tanyaku menuntut jawaban Dimas.
"Siang itu, gue ikut Andre ke
studio pencucian fotonya. Tapi waktu nyuci foto, tiba-tiba saja Andre pingsang.
Gue yang panik langsung bawa Andre ke rumah sakit. Dan setelah melakukan
pemeriksaan Dokter menyarankan untuk melakukan rongsen," Dimas terdiam.
"Terus apa yang terjadi?"
aku semakin nggak bisa mengontrol emosiku.
"Waktu hasil rongsennya keluar,
gue sama Andre ke rumah sakit. Dan berdasarkan hasil rongsen itu Dokter
memfonis Andre menderita kanker otak stadium tiga. Mulai saat itu Andre
menjalani obat jalan dan kemo terapi setiap bulan. Tapi nggak ada hasil dan
penyakit Andre semakin parah. Sampai seminggu yang lalu Andre dan gue ke rumah
sakit untuk ngambil hasil rongsen yang terakhir. Dan hasilnya kanker di otak
Andre semakin ganas. Dokterpun memberitahu Andre kalau kanker otaknya sudah
memasuki stadium akhir.." jelas Dimas panjang lebar.
"Terus kenapa kamu baru certain
semuanya sekarang? Saat Andre terbaring lemah. Apa harus menunggu kankernya
semakin ganas kamu baru mau certain semuanya?" ucapku lirih.
"Itu semua karena Andre yang
ngelarang gue, Nan … dia nggak mau lihat
orang-orang yang dia sayang sedih," jawab Dimas pelan. "Gue baru
kasih tau keluarganya aja seminggu yang lalu," lanjut Dimas dan jawaban
itu membuat air mataku semakin deras mengalir.
Sementara Aku, Dimas, Rayhan, Erick,
Dyah, dan Devi gelisah di depan ruang ICU, mama Andre terus menangis mendamping
anaknya yang sedang terbaring lemah. Aku dan yang lain semakin gelisah dengan
keadaan Andre saat melihat dokter dan suster berl;ari menuju ruang ICU.
"ANDREE…..!!! teriakan dari
dalam ruang ICU itu membuatku tersentak.
Aku mencoba melihat ke dalam
ruangan. Dan tak lama kemudian Dokter dan Mama Andre keluar dengan mimic wajah
aneh.
"Tante, Andre nggak apa-apa kan ? Andre baik-baik
saja kan ,
Tante?" aku menuntut jawaban yang pasti dari Tante Liana, Mama Andre. Tapi
Tante Liana dan Dokter diam seribu bahasa. Tanpa menunggu lagi aku segera masuk
ruang ICU dan yang ku lihat hanya suster yang sedang melepas semua peralatan
medis.
"Sus, jangan di lepas! Andre
pasti bias bertahan! Andre belum mati, Sus! Pasang lagi alat-alatnya! Ayo
pasang!" aku langsung histeris.
"Maaf, Mbak… ini sudah menjadi
keputusan Bu Liana," jawab suster itu.
"Andre bangun, Ndre! Ndre
bangun, Ndre!!" aku menggoncangkan tubuh yang sudah tak bernyawa itu.
"Sabar, Kinan…" tiba-tiba
saja Tante Liana memelukku.
"ANDREEE!!!" aku melepas
pelukan Tante Liana, lalu memeluk tubuh yang sudah terbujur kaku itu.
"Andre apa ini arti ucapanmu tadi? Aku nggak mau secepat ini
kehilanganmu…" ucapku pelan.
Kali ini aku benar-benar merasakan
perihnya kehilangan seseorang yang benar-benar aku sayangi.

0 komentar:
Posting Komentar