Empat puluh hari sudah berlalu,
masih teringat jelas peristiwa yang sangat memukulku itu. Mengapa dia lakukan
itu semua padaku? Mengapa dia sembunyikan semua dariku? Andai wakttu itu dia
lebih terbuka, mungkin nggak akan seperti ini jadinya.
"Kinan.." sontak aku
terkejut karena ada yang menyentuh pudakku walaupun itu pelan.
"Apa?" tanyaku setelah
mengetaui Erick-lah pelakunya.
"Kamu belum bisa ikhlas atas
kepergian Andre?" Erick mencoba membaca isi hatiku.
"Andre terlalu punya tempat di
hatiku, Rick.." jawabku lirih.
"Mungkin Andre memang punya
tempat yang istimewa di hati kamu, tapi kalau kamu seperti ini terus Andre juga
akan sedih lihatnya.." Erick mulai merangkulku.
"Tapi nggak semudah itu buat
aku lupain Andre, Rick.. aku masih terpukul sekali," ucapku tanpa
menyadari anak sungai mulai terbentuk dari sudut-sudut mataku.
"Udah dong.. kok malah nangis
sih?? Aku kan
nggak nyuruh kamu buat nangis.." wajah Erick terlihat lucu kalau khawatir
gini.
"Hehehehe.." aku jadi geli
lihat raut wajah khawatirnya itu.
"Lho kok malah ketawa
sih??" raut wajahnya berubah menjadi heran.
"Habisnya kamu lucu kalo kayak
gitu.. hehehehe.." ucapku terkekeh.
Bel pertanda jam istirahat sudah
selesai memangil kita, "Eh, udah bel tuh. Balik ke kelas yuk!" ucap
Erick sambil menarik tanganku, memaksaku bangkit dari tempat dudukku.
Tanpa aku tau sebabnya, aku dan
Erick mejadi perhatian seisi kelas saat memasuki kelas. Seketika juga aku
melihat tangan kiri Erick yang masih menggandeng tangan kananku.
"Sorry, Rick.. lepasin
dong," bisikku pada Erick.
"Oh, okay.. sorry ya,"
jawabnya sambil langsung melepaskan tangan kirinya dari tangan kananku.
"Hei! Dari mana aja sih kalian?
Dari tadi dicariin juga," suara cempreng Devi membuat aku dan Erick
tersentak.
"Eh.. hem.. dari taman
sekolah," jawabku.
"Berdua aja? Kok nggak
ngajak-ngajak sih?" selidik Dyah.
"Wah jangan-jangan.." goda
Dimas.
"Apaan sih lo, Dim!" jawab
Erick yang langsung ngeloyor ke bangkunya.
"Iya, kayak cintanya habis
ditolak aja," sahut Rayhan "Wa jangan-jangan habis lo tolak ya, Nan?" lanjutnya.
"Kinan? Lo masih belum bisa ikhlasin
kepergian Andre?" ucap Dyah yang melihatku memegang foto Andre.
"Hem? Nggak kok, aku udah bisa
terima keadaan ini. Tenang aja, guys.." jawabku sembari membentuk sudut di bibirku.
***
Hari demi hari berlalu. Kenapa sekarang aku merasa Erick
lebih perhatian sama aku? Heemm.. mungkin karena Erick sobat aku. Tapi ini bukan
Erick yang biasanya. Erick kan
cuek dan nggak pernah mau tau dan sekarang sikapnya ke aku berubah 180o.
Pulang sekolah siang ini, aku berniat menyelesaikan novel
pertamaku yang sudah di-deadline sama
penerbit. Tapi disela-sela kesibukanku menekan huruf demi huruf di keyboard laptopku, ada sebuah pesan
masuk, aku pun langsung membuka pesan itu.
Mungkin
cinta tak berlangsung selamanya,
Tp
cinta yg membuatmu bertahan..
Bertahan dari perihnya luka yg dia
gores krn kepergiannya u/ selamanya..
Namun kini ku kan datang dan berimu cinta yang baru,
Cinta yg penuh kekurangan,
Tp percayalah ini tulus dariku..
Pesan masuk itu ternyata dari Erick. Sebenarnya apa
maksudnya mengirim pesan seperti itu?
???
Tak lama kemudian handphone-ku
bergetar, ada balasan dari Erick.
Luka yg kamu rasakan itu hanya
sementara..
Dgn iringan waktu kamu kan terbiasa,
Ikhlas-lah krn Allah kan mengganti semua luka
itu dgn kebahagiaan..
Mengganti semua air mata yg kau
reteskan dg senyum manis di wajahmu..
Dan jk Allah mengijinkan semua kan indah pd waktunya…
Kenapa tiba-tiba Erick jadi puitis gini ya? Kesambet apa sih
tuh anak? Atau jangan-jangan dia salah makan tadi pagi? So, nobody can know someone’s mind.
Kamu kenapa ya, Rick? Emang tadi
pagi kamu makan apaan sih? Kok berubah jadi aneh gini sih?
Don’t close Ur heart 4 love just ‘cause the wound in your
heart.. Open Ur
heart 4 new love, I believe U can be happy..
I know.. but so hard for remove him
from my heart & my mind..
And I never find someone like him,
Ya udah lah.. yg pntng kamu nggak
sedih lg, :)
Iya, Rick..
Makasih ya td udah bkn aku smile,
Iy,
Btw.. lg ngapain sih?
Lg nulis..
Abisnya udah di deadline ma penerbit
nih,
Oh, good luck ya…
Eh dah dulu ya, aku mau latihan
basket dulu…
Okay, deh…
Kenapa rasanya messenger-anku
sama
Erick nggak nyambung sama pesan pertama yang dia kirim ya? Aku coba
buka kembali pesan dari Erick. Dan ternyata benar, ada kalimat yang
membuatku tercengang saat membacanya lagi. 'Namun kini ku kan datang dan berimu cinta yang baru.'
Cinta yang baru? Apa maksudnya? Mungkin cinta or rasa kasih sayang seorang sahabat untuk sahabatnya kali ya? What ever!
Inspirasiku seakan mengantre untuk ku tuangkan. Nggak sampai
dua jam aku beradu pandang dengan layar laptop udah siap aja nih novel
pertamaku. Sekarang saatnya kirim e-mail
ke penerbit.
Sampai jam dua belas malam nggak ada e-mail balasan dari penerbit. Padahal kemarin mereka terus
memburuku untuk menyelesaikan novel pertamaku itu, sekarang nggak ada balasan e-mail. Sudahlah, sudah malam juga,
lebih baik aku tidur aja.
Pagi hari dengan suasana yang sama seperti biasanya, tak ada
yang istimewa. Hanya deru suara kendaraan yang terdengar olehku, maklum saja
aku kan tinggal di daerah kota.
Aku menggapai ponselku di meja kecil samping kiri tempat
tidurku. Ada
dua pesan masuk dari Erick? Tumben baget Erick SMS sepagi ini? Aku buka pesan
dari Erick itu.
Hey,
Guten morgen, girl..
Udah bengun belum nih?
Hah? Tumben banget sih Erick SMS seperti ini? Padahal kan Erick itu nggak
pernah SMS kecuali penting, apalagi hanya untuk mengucapkan selamat pagi.
Guten morgrn too,
Ini baru bangun..
Eh kok baru bangun sih?
Udah jam berapa ini?
Jam 6, kan masuknya jam 8..
Lho? Ini anak lupa apa pura2 lupa sih?
Hari ini ka nada tambahan pelajaran
sih, Kinan…
Hah? OMG! I forget about it!
Oh NOOO!!!
Buruan mandi gih,
Eh btw, berangkat bareng yuk..
Aku jemput kamu 20 mnt lg..
Okay,
Pagi ini perasaanku kok dag dig dug gini sih? What?!!% Dag
dig dug?? Kayak lagunya Blink aja nih. Duh nggak mungkin banget deh! Erick kan sahabatku, jadi
nggak mungkin kalau hatiku sampai dag dig dug cuma karena berangkat bareng Erick.
"Hei, kok kamu tiba-tiba lupa kalau ada tambahan
pelajaran buat UNAS sih?" tanya Erick saat tiba di parkiran sekolah.
"Emang sekarang hari apa sih?" aku berbalik tanya pada
Erick.
"Hari Rabu," jawab Erick singkat.
"What??!!!%" aku menepuk keningku dan menarik
tangan kanan Erick yang memakai jam tangan. "Aku kan ada janji sama Bu Intan, sepuluh menit
sebelum bel masuk. Aku ke ruang guru dulu deh," aku melangkah cepat
meninggalkan Erick.
"Eh tunggu, Kinan!!" teriakan Erick itu masih
dapat ku dengar dan sekarang dia menyamai langahku.
"Apa??" tanyaku singkat.
"Sini tas sama buku kamu, biar aku yang bawa,"
Erick menawarkan bantuannya.
"Nggak usah deh. Siapa tau ntar nyatet trus butuh buku
sama pulpen.." tolakku.
"Nggak apa-apa, kamu kan bias nyatet di handphone," saran Erick.
"Makasih.. tapi nggak perlu. Eh, aku masuk ke ruang
guru dulu deh. Kalau kamu ke kelas dulu ya nggak apa-apa kok," ucapku pada
Erick lalu masuk aku ruang guru.
Ternyata Bu Intan cuma bilang ada ulangan Matematika sehabis
jam pelajaran tambahan. Hanya ulangan Matematika. What??!!% ULANGAN
MATEMATIKA?!! Duh kemarin kan aku nggak belajar sama sekali. Ya sudahlah,
berharap Bu Intan lagi baik jadi soalnya nggak susah.
"Attention,
please.." ucapku saat memasuki ruang kelas yang masih ramai karena
belum ada guru yang mengisi. "Hello,
guys.. attention to me, please.." teriakku lai karena nggak ada yang
memperhatikanku.
"Okay,
Kinan.." jawab mereka serempak.
"Okay, guys..
tadi aku dikasih tau sama Bu Intan, katanya ada ulangan Matematika habis jam
pelajaran tambahan," ucapku menyampaikan pesan Bu Intan.
"Hah?! ULANGAN MAT?!" tanya Dyah nggak pecaya.
"Iya," jawabku lalu ngeloyor ke bangkuku.
Dan benar saja, setelah jam tambahan selesai Bu Intan
langsung masuk kelas XII-IPA1, kelasku. Setelah membagikan soal, Bu
Intan langsung memasang mata elangnya. Untungnya aku sudah paham tipe soal
seperti ini, jadi nggak susah untukku mengerjakannya.
Hari ini terasa cepat, entah karena pelajaran hari ini
semuanya favoritku atau karena yang lain. Entahlah! Pulang sekolah, siang ini
Erick mengajakku jalan.
"Nan… makan yuk! Cacing
di perut gue udah pada demo nih," ajaknya saat kita berada di toko
aksesoris.
"Okay,"
jawabku singkat, lalu menarik tangannya dan menggandenganya menuju sebuah café.
Aku dan Erick makan siang untuk mengganti energi kita yang
terbuang karena berkeliling mall.
Capcay, mie goreng, dan es campur yang kita pesan tak ada yang tersisa.
"Nan, aku mau ngomong
sama kamu.." ucap Erick setelah makanan di meja habis.
"Heemm??" tanyaku penasaran.
"Nan, mungkin aku
nggak seromantis Andre, tapi aku harus jujur ke kamu. Awalnya aku memang hanya
ingin buat kamu tersenyum. Karna kan
semenjak kepergian Andre kamu selalu terlihat murung. Tapi lama-kelamaan aku
menyadari ada satu rasa dalam hatiku," ucapnya sambil menggenggam
tanganku.
"Maksud kamu?" aku tak mengerti apa yang diucapkan
Erick, tapi aku dapat menebak kalimat selanjutnya yang akan dia katakana.
"Kinan.. aku sayang kamu," ucap Erick. Benarkan?
Aku sudah tau arah pembicaraannya pasti ke situ.
"Maaf, Rick.." jawabku lalu tertunduk diam.
"Aku tau, Nan.. kamu
hanya menganggapku sebagai teman biasa kan?
Aku ngerti itu kok, Kinan.." ucapnya.
"Nggak, Rick.. aku anggap kamu lebih dari teman,"
ucapku seraya disambut Erick dengan senyum manis di bibirnya.
"Maksud kamu?" wajah Erick dihampiri keterkejutan.
"Iya.. aku anggap kamu lebih dari teman biasa.."
aku mengembangkan senyumku. "Iya.. aku anggap kamu lebih dari teman biasa
karna kamu itu sobat istimewaku." ucapku sambil menepuk bahu Erick.
"Aku ngerti itu, Kinan.." jawab Erick tanpa
mengurang sudut yang terbentuk di wajahnya.
"Maaf, Rick.. kamu belum bisa menggantikan posisi Andre
di hatiku, tapi kamu bisa mengisi hatiku sebagai sobat istimewaku.." sudut
itu pun semakin terbentuk di wajah Erick.
Andre memang the
special person in my life and I never find someone like him. I just can pray
for him, hope for his happiness.
