Kedekatan kami memang berawal dari
ketidaksengajaan. Ya, berawal dari satu kelompok saat tugas Bhs. Inggris kami
saling bertukar nomor handphone.
Kalau dipikir-pikir memang lucu juga, sudah tiga tahun berada dalam satu kelas tapi baru kali ini saling tukar
nomor handphone.
Awalnya memang banyak teman yang bilang kalau dia suka sama
aku. Entah apalah itu, aku hanya menggapnya sebagai candaan. Nggak ada niatan
untuk mengganggap serius.
Setelah beberapa minggu mengenalnya lebih dekat, aku baru
tau kalau dia cowok yang asik. Padahal kalau di kelas dia itu tergolong
pendiam. Ya, walaupun menurut rumor
yang beredar banyak adek kelas yang suka sama dia, tapi aku nggak pernah liat
wajah soknya seperti kebanyakan cowok.
Siang yang panas. Meskipun tak ingin rasaku melakukan
apapun, tapi tugas TIK ku belum kelar. Akhirnya aku bangkit, mengambil laptop
serta modemku, dan mulai mengerjakan.
"Zahra… makan dulu gih! Udah jam setengah satu, nanti maag
kamu kambuh. Buruan sini," teriak Bunda dari ruang makan.
Tanpa pikir panjang aku segera meninggalkan kamar dan menuju
ruang makan. Setelah selesai makan aku kembali ke kamar dan berniat kembali mengerjakan
tugas TIK ku.
"Lho? Ada
adek Danish? Kok di kamarku sih?" gumamku saat berada di ambang pintu.
"Lho kok ngutak-ngatik laptopku sih?" aku segera menghampiri Danish
yang bersama Ryan.
"Kak Zahra, tadi pas Danish datang lagsung masuk kamar
Kak Zahra. Ya udah, sama Tante Ericka disuruh nemenin dia," jelas Ryan,
lalu dia keluar dari kamarku.
Aku mendekati Danish yang baru berusia dua tahun. "Hay… what are you doing?" tanyaku
pada Danish dengan nada seenak mungkin.
"I do something…
ini loh gambarnya bagus-bagus, Danish suka.." jawabnya dengan nada cadel
khas anak berusia dua tahun.
"What?"
pekikku terkejut. "Excuse me… may I
borrow this laptop?" lanjutku dengan nada yang sedikit turun.
"Jangan!! Danish pinjam!! Danish pinjam!!"
jawabnya sambil memegangi laptopku.
"Eh, Adek Danish mau ice cream nggak?? Mama kamu punya banyak loh, buruan nati dihabisin
Kak Ryan loh…" bujukku. Tanpa pikir panjang Danish langsung bangkit dan
menemui Mama-nya yang berada di ruang keluarga. Setelah Danish keluar, aku
segera menutup pintu kamar.
Sebelum kembali beradu pandang dengan layar laptopku, aku
mengecek ponselku. Dua pesan masuk dari Steve? Aku buka pesan Steve itu.
Siang,
Lg apa nih?
Lagi ngerjain tugas TIK,
Kamu?
Lg sms-an ama kamu :)
Eh neng, Ayah neng itu pegusaha
indo*** ya?
Duh kebiasaan deh ni cowok, mulai deh gombalannya. Okay lah. Daripada boring melandaku yang sendiri dalam kamar, lebih baik dibalas aja
nih sms. Hitung-hitung buat refreshing.
Emang kenapa ya, bang?
Soalnya neng seleraku banget :D
Oh,
Eh bang, abang tau nggak kenapa
siang ini panas banget?
Enggak tuh neng,
Mang knp?
Soalnya abang lagi jauh dari aku
sih..
Abang kan penyejuk hatuku, :)
#eeaak…
Duh bisa aja nih neng,
Btw, emang tugas PP TIK kamu belum
selese?
Nggak biasanya deh,
Males ngerjain aja,
Gapapa dong skali2 males…
Bosen rajin terus, :P
Lho? Kok gitu sih?
Ya udah lanjutin gih,
Okay deh.. :)
Cukup refreshing-nya,
sekarang waktunya ngerjain lagi. Tadi, udah sampai bab 3, berarti tinggal satu
bab lagi dong. Huh, seneng rasanya bisa cepat-cepat lepas dari nih tugas.
"Lho? Kok? Mana power point TIK ku?" mataku
membelalak ketika men-search tugas
TIK ku dan tidak diketemukan.
"Danish," ucapku seketika. "Damn!!"
gerutuku. "Pasti deh udah ke-delete
sama Adek Danish, mana aku nggak punya copy-annya
lagi…" lanjutku.
Aku meraih ponselku dan mengirim pesan ke Steve, mungkin dia
bisa bantu dan semoga dia mau bantu aku.
:’(
Lho knp cantik?
PP TIK ku ke-delete sama adek
Danish.. :(
Mana aku nge-save-nya di flashdisk,
dan nggak punya copy-annya.. ya kalo ilang ya ilang deh… :’(
Lho trus gimana? Masak harus diulang
dari awal? Sayang banget lho, Zar…
Ya mau gimana lagi? Udah resiko,
Steve…
Mau copas punyaku??
Benar saja dugaanku, dia pasti menawarkan bantuannya. Tapi…
lebih baik ditolak aja deh, daripada dia berpikiran yang nggak-nggak.
Nggak usah deh, makasih…
Aku ngerjain lagi aja, :)
Butuh bantuan?
Nggak usah…
Aku bisa sendiri kok,
Ya udah,
Cayo!! Semangat, Zahra!! Senin pasti
slese, :D
Makasih.. :)
Setelah itu aku langsung kembali beradu pandang dengan
latopku. Okay, hari ini harus
selesai! Harus! Walaupun harus sepanjang hari aku mengerjakan tugas ini.
"Huh akhirnya kelar juga nih tugas!!" setelah
menge-save, aku melihat jam wekerku.
"Hah?! Jam delapan lebih lima
belas??!! Aku belum mandi lagi!!" aku bangkit dan menuju kamar mandi di
kamarku.
Setelah mandi dan ganti baju, aku berniat untuk turun dan ke
ruang makan. Tapi….
When you’re gone..
The pieces of my heart are missing you…
When you’re gone..
The face I came to know in missing too….
Lagu 'When You’re Gone' yang menjadi ringtone di handphoneku berdering.
Aku segera menekan tombol hijau tanpa melihat nama yang tertera di layar handphoneku, "Hello…" sapaku dengan nada lemas.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?" sontak aku segera
menatap layar handphoneku setelah
mendengar suara yang sangat familiar
itu.
"Steve?" gumamku. "Aku nggak apa-apa
kok.." jawabku.
"Nggak mungkin kamu nggak apa-apa.. kamu pasti lagi
sakit. Itu terdengar jelas dari suara kamu, Zahra…" ucap Steve menyelidik.
"Nggak apa-apa kok, cuma kecapekan aja.." jawabku
datar.
"Pasti tadi kamu maksain buat ngerjain tugas TIK
itu kan? Udah
dibilang biar aku yang ngerjain, lihat kan
akibatnya sekarang? Kasihan kamunya juga kan?
Jadi nggak bisa nikmatin hari minggu kan?"
cerocosnya.
"Hehehe…" aku hanya tertawa.
"Lho kok kamu malah ketawa sih?" tanya Steve
dengan nada heran.
"Habisnya kamu kalau ngomong itu nggak ada
titik-komanya.. Bunda aku aja kalah, hehehe…" jawabku.
"Rese' kamu ya… btw udah makan belum?" tanyanya
lagi.
"Belum," jawabku singkat.
"Ya udah makan dulu gih, bye…" ucapnya.
"Bye…" jawabku.
Setelah tersambung dengan mbak tutut, aku langsung menaruh handphoneku dan melangkahkan kaki ke
ruang makan.
"Malam, Bunda… Bunda kok belum tidur sih? Udah jam
sembilan lho," ucapku sambil menunjuk jam di ruang makan saat melihat
Bunda di ruang makan.
"Lagi siapin makan malam buat kamu, sayang…" jawab
bunda seraya merangkulku.
"Makasih ya, Bunda…" jawabku sambil mengecup pipi
kanan Bunda.
"Ya udah, makan sana..
Bunda tau dari tadi kamu nggak istirahat," ucap Bunda sambil mengecup
keningku, lalu Bunda berlalu.
Hai…
Dah makan blm? Buruan makan gih!
Ntar kamu sakit loh, :)
Steve kirim SMS seperti ini? Duh kenapa sih dia jadi
perhatian gini sama aku? Apa mungkin Vano dan Deo benar? Apa mungkin Steve
beneran punya rasa untuk aku? Argh! Kenapa aku jadi GR gini sih? Tau ah!
Ni lg makan,
Ya udah…
Tidurnya jgn malam2…
Okay deh…
Eh, Ra…
Bsk pas plng sekolah jgn plng dulu ya…
Emangnya knp?
Aku mau ngajak kamu ke somewhere, :D
Kemana dulu?
Masih secret, ntar kamu jg tau sndri…
Goog night,
Have a nice dream.. :*
Hah Steve pake emotion cium (:*)? Apa maksudnya nih? Mesra
banget sih kesannya? Tapi kenapa hatiku jadi seneng nggak keruan gini sih? Atau
jangan-jangan aku… mungkin juga. :D
Good noght,
Have a nice dream too…
PS : Besok jemput aku dong…
Okay,
Emangnya motor kamu knp?
Gapapa…
Pengen berangkat sama kamu aja,
Besok aku tunggu di dpn kompleks ya?
Nggak di rmh aja?
Jgn ntar Ayahku tau..
Nanti aku dimarahin lg, -,-'
Okay, deh… :D
Aku jg ngeri kl Ayah kamu marah..
Oops! Ntar aku nggak diterima jd mantu lg aku…
Hehehe…
#justkidding :P
Huh… rese' kamu!! :@
Eh marah,
Sorry deh..
Udah tidur sana,
bsk telat bgn lho, :)
Okay, deh.. :)
Awas ya kamu ulangin lg!
Iya, iy…
Good night… :*
Heemm.. kalau aku baca lagi, SMS-anku sama Steve kayak orang
pacaran aja. Udah setengah sepuluh? Tidur dulu ah.
Pagi ini hatiku rasanya dag dig dug. Kok aku jadi nggak
keruan gini sih? Tenang, Ra.. tenang. Cuma berangkat bareng aja. Tapi nanti kan Steve ngajak aku
nge-date, BUKAN!! Bukan nge-date, cuma jalan biasa, Ra! Jangan
terlalu berharap deh, Zahra! Udah deh biasa aja, Ra! Nggak usah nervous ataupun kegeeran!
"Pagi, Ayah… Bunda…" sapaku dengan ceria, lalu duduk di meja makan.
"Pagi, Ryan…"
"Lho anak Ayah kenapa nih? Kok ceria banget?"
tanya Ayah.
"Nggak apa-apa kok, Ayah.." jawabku sembari
mengambil selembar roti dan mengoleskan selai stoberi di atasnya. "Ayah,
hari ini aku nggak bawa' motor.." ucapku sambil mencomot roti di hadapanku
itu.
"Lho? Trus kamu naik apa? Ayah kamu nggak bisa nganter
lho," ucap Bunda khawatir.
"Nggak dianter juga nggak apa-apa kok, Zahra berangkat
bereng temen…" jawabku. " Ya udah deh, Ayah… Bunda… Zahra berangkat
dulu, Assalamualaikum…" aku mencium tangan kedua orang tuaku setelah
membaca SMS dari Steve.
Setelah sampai di depan kompleks aku segera memboncengkan
diri di motor yang sangat aku kenal, "Lama ya nunggunya?" tanyaku pada
pemegang kemudi.
"Nggak kok, aku juga baru nyampek.." jawabnya, kemudian
melajukan.
Setelah sampai diparkiran sekolah, Steve menghentikan
motornya dan memintaku untuk ke kelas lebih dulu. Dan bisa ditebak!! Sikap
dinginnya kabuh lagi!! Dia yang kemarin perhatian banget sama aku mendadak
berubah menjadi cuek!!
Tepat setelah bel pulang berbunyi, Steve mengirim SMS.
Sebenarnya males juga aku nenggepin dia. Terlalu abu-abu sih! Kadang perhatian,
kadang cuek bebek. Tau ah!! Yang jelas sikapnya hari ini bikin aku bad mood!!
"Kamu nggak pulang, Ra? Pulang yuk!!" ajak Ria
teman sebangkuku.
"Kamu pulang dulu aja, aku masih ada yang harus
diselesin.." jawabku mencari alibi supaya dia nggak curiga.
"Okay, deh.." jawab Ria seraya melangkahkan
kakinya keluar kelas.
Setelah di kelas hanya tinggal aku dan dia, pemuda itu
mendekat ke arahku dan mengajakku ke tempat yang dia maksud kemarin.
"Taman ini?" gumamku saat dia menggentikan motornya di taman yang tak jauh dari sekolah.
"Iya…" ucapnya nggak kalah pelan.
Aku turun dari boncengannya dan duduk di dekat danau kecil
di taman itu, dan sepertinya dia mengikuti langkahku. Aku nggak tau apa
maksudnya membawaku ke sini?
"Your favorite
place, isn’t it?" ucapnya memandang lurus ke depan.
"Dari mana kamu tau?" jawabku singkat.
"Ra…" tatapannya padaku seolah menjawab 'Tentu saja aku tau, Ra.'. Namun dia tak menjawab dan hanya terdiam.
"Steve?? Steve, kenapa kamu tega sama aku? Kenapa kamu
mainin perasaanku? Kenapa kadang kamu perhatian banget sama aku, kadang kamu
kamu cuek sama aku?" ucapku tanpa menatap lawan bicaraku itu.
"Maaf, Ra…"
"Apa karna ada perbedaan besar yang melintas diantara
kita?" tanyaku lagi.
"Agama bukan hal kecil, Ra. Biar semua rasa ini tetap
tertanam dalam hatiku, walau ku tau ini salah. Namun apa dayaku tak mampu
menepis pesonamu. Entah sejak kapan kamu mulai mengisi hatiku dan menjadi
bagian dari hidupku. Dan ku rasa bahagia walau tak dapat memilikimu seutuhnya,
megagumimu itu lebih dari cukup untukku," ucapan Steve itu membuatku
tercengang.
"Maksud kamu?" tanpa sadar terbentuk sungai kecil
yang mengalir dari kedua sudut mataku.
Steve menatap kedua manik mataku tajam dan mengusap pipiku
pelan, "Kalau kita mau, kita bisa nggak pacaran. Tapi, Agama itu masalah
sakral, Ra.." ucapnya.
"Sejak awal aku tau kamu beragama protestant, aku tak
berniat untuk jatuh cinta sama kamu. Tapi kedekatan kita selama beberapa minggu
ini membuat hatiku berkata lain, Steve…" ucapku kemudian.
"Aku memang salah.. seharusnya kita nggak pernah
tukeran nomor handphone waktu itu.
Seharusnya cuma aku yang ngerasain sakit ini, biar saja aku yang memendam
perasaan ini tanpa membuatmu seperti ini.. aku memang bodoh, Ra.."
ucapnya.
"Tapi ini semua sudah terlanjur, Steve…"
jawabku.
"Biar aku yang memendam perasaan ini, tanpa membuatmu
sakit dan menyesal. Mungkin ini yang terbaik untuk kita.." ucapnya.
"You’re always be
the special person in my life, Steve…" ucapku sembari memeluknya dan
arus sungai yang mengalir di pipiku semakin deras aku rasakan.
"Udah dong… jangan nangis lagi ya," lagi-lagi
usapan lembut itu aku rasa menyapu pipiku. "Kita bisa sahabatan kan? Aku janji nggak
akan cuek sama kamu lagi deh," lanjutnya.
"Janji?" aku menyodorkan kelingkingku menunggu
jawaban Steve.
"Janji…" jawabnya sambil menautkan kelingkingnya
di kelingkingku. "Udah dong, sekarang senyum…" pintanya.
***
"Steve apaan sih kamu?! Deo! Apaan sih kalian?! Vano
kembaliin sini!!" ucapku pada tiga sobatku itu.
"Ambil aja nih! Eits! Eits!" Deo memutar-mutar
pulpenku.
"Apaan sih kalian?! Bercandanya nggak lucu tau!"
ucapku lalu duduk di bangkuku.
"Eh
udah-udah… ngambek tuh anak orang," suara Steve itu terdengar olehku
meskipun aku nggak peduli.
"Nih!
Kasihin gih, Steve!"
"Nih pulpennya!" ucap Steve yang duduk menghadap
ke arahku. "Kok cemberut sih? Tambah jelek tau!" ledeknya, sontak
tawa Deo dan Vano meledak.
"Steve apaan sih!!" pekik ku.
Dua minggu sejak sudah kejadian di taman itu, 'Thanks udah
nepatin janji kamu, Steve. Thanks udah nggak cuek lagi sama aku. And you’re the
special person in my life…' gumamku dalam hati.
***